Puisi buat “FRANKY HUBERT SAHILATUA”

Franky

KABAR duka menyelimuti dunia hiburan tanah air. Penyanyi senior Franky Sahilatua meninggal dunia. Pelantun “Perahu Retak” itu meninggal dunia Rabu, 20 April di RS Medika Permata Hijau, Jakarta, sekitar pukul 15.15 WIB.

Karakter & Karya

Franky kecil

Franky Hubert Sahilatua (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 16 Agustus 1953 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 20 April 2011 pada umur 57 tahun) adalah penyanyi balada asal Surabaya, Indonesia. Franky memiliki dua adiknya yaitu Jane Sahilatua dan Johnny Sahilatua.Namanya dikenal publik sejak paruh kedua dekade 1970-an, ketika ia berduet bersama adiknya, Jane Sahilatua, dengan nama Franky & Jane. Duet ini sempat menghasilkan lima belas album, semuanya di bawah Jackson Record.

Lirik lagu karya Franky pada masa Franky & Jane cenderung pada pemujaan alam, misalnya pada lagu Musim Bunga dan Kepada Angin dan Burung. Namun demikian, seperti kebanyakan penulis lagu balada lain, Franky gemar pula “bercerita” mengenai kehidupan orang sehari-hari, seperti Perjalanan atau Bis Kota. Franky pernah menulis dan menyanyikan lagu-lagu soundtrack untuk film Ali Topan.

Sejak tahun 1990-an hingga sekarang, Franky banyak terlibat dalam aksi-aksi panggung bertema sosial dan nasionalisme. Ia aktif terlibat dalam masa peralihan politik dari Orde Baru menuju Reformasi, penentangan RUU APP, serta gerakan anti globalisasi.

“Patah Hati” Karena Indonesia

MENJADI penyanyi besar belum cukup bagi Franky Sahilatua. Pria yang kini tergolek lemah di Rumah Sakit Medica Permata Hijau, Jakarta Selatan itu masih memiliki satu cita-cita yang selalu dituturkan kepada sang ibunda, Theodora Yofefa Sahilatua. Apa itu?

“Dia itu ingin negara ini bisa menyejahterahkan rakyat, jangan sampai tidak,” cerita sang ibunda saat ditemui di rumah sakit, Selasa 19 April.

Theodora mengibaratkan, Franky seperti orang yang sedang patah hati jika melihat dan mendengar negara lain lebih maju dari Indonesia. “Padahal Indonesia itu memiliki semuanya. Kenapa masyarakat kecil selalu dimarginalkan,” ungkap wanita berusia 80 tahun itu menirukan keprihatinan anaknya.

Tak sampai di situ, Theodora juga menceritakan jika pria yang melambung namanya lewat tembang ‘Lelaki dan Rembulan’ itu juga sangat peduli dengan kondisi sosial di sekelilingnya.

Puisi buat “FRANKY HUBERT SAHILATUA”

Dengan kereta malam dia pulang sendiri
Mengikuti rasa rindunya
pada kampung halamannya

Ia kembali….
Pada Ayah yang menunggu disana
Pada ibu yang mengasihinya

Kepada angin dan burung-burung
Kunyanyikan lagu ini
Tentang rindu

Tentang kepegian seorang lelaki

Kepada angin dan burung-burung
Apakah engkau tetap bertiup ?

Bersama jatuhnya daun
Apakah burung akan tetap terbang ?
Di langit yang terbuka

Franky

Petik, petiklah bunga kecil itu dan bawalah
Dari jalan rindumu menuju pengharapan
Aku tak punya emas untuk aku sodorkan
Cuma doa yang sempat aku bisikkan

Janganlah kau biarkan rindumu pada Pencipta
Menjegal segala mimpi
Bawalah berlari
Bawalah bernyanyi
Bersama cinta kami……

Franky…

Bis kota sudah menunggumu

Selamat Jalan Kawan

Franky-2

One thought on “Puisi buat “FRANKY HUBERT SAHILATUA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s