Taffakur di AMBU RE MBOTU (01)

Image072

Aku tersujud….tak berdaya…menatap kebesaran TUHAN atas alam yang indah ini. Dikejauhan kulihat Metinumba dengan atol karangnya, mengkilau terpantul sengatan senja…..

Inilah kesekian kalinya jejak petualanganku menaklukan puncak-puncak raksasa di Kabupaten Ende. Siang itu, 14.00 WITA kami berangkat ke Pulau Ende, sebuah pulau mungil di barat kota Ende. Rencananya sih ada kegiatan rehab rumah ibadah di Metinumba. Kami diundang sahabat-sahabat disana.

16062007043

Naik Perahu Motor…TUT..TUT…TUT…

1 jam saja perjalanannya, tapi segudang panorama laut tidaklah cukup kuabadikan. Indah sekali…..

16062007045(01)a

Pemandangan sudut Ekoreko (ujung pertama pulau ende)

Image044

Ibu-ibu lagi turun dari atas perahu motor – kemudian naik perahu kecil – menuju ke daratan ..eee…awas jatuh bu’ !! basah kuyup nanti…

Selamat Sore…Louis Fernando Ata Kumi Toro

Tibalah kami di dermaga Kemo…sebuah dermaga kecil yang konon dahulunya merupakan tempat pertama Portugis merapatkan armadanya. Hmmmm….aku jadi teringat cerita Bapak…..: ” nak…dahulu kala tahun 1561, benteng portugis dibangun di Kemo, yang pasti bahwa beberapa tahun kemudian terjadi pertempuran hebat antara orang portugis, penduduk pribumi kemudian dengan belanda…” beliau menyambung ceritanya :“ …tersebutlah salah satu nama komander (komandan) benteng bernama Louis Fernando. Karena kumisnya yang panjang melingkar, penduduk pribumi menyebutnya dengan julukan Louis Fernando Ata Kumi Toro, yang berarti Louis Fernando yang berkumis merah. Dia memiliki seorang anak gadis, hasil perkawinan campuran dengan gadis numba (sebuah desa kecil bagian utara diseberang pulau ende). Anak gadis itu bernama Rendo….”

Image070

Tampak Kemo di pinggir pantai…tempat kami merapatkan perahu…di kejauhan…tampak sebuah pohon beringin besar…disanalah tempat sisa peninggalan benteng portugis itu….

“…Si Rendo, dimasa hidupnya menjalin kasih dengan seorang pemuda bernama Djebe Djawa (seorang pelayan yang bekerja di benteng ayahnya). Pada saat yang bersamaan, seorang pemuda lainnya yang gagah berani dari seberang jatuh hati pula padanya. Namanya Ndoke Rua.

Namun cinta Ndoke Rua ditepis sebelah mata oleh Rendo. Akibat rasa cemburu yang teramat mendalam serta cinta yang menggebu-gebu, terjadilah salah paham dan pertempuran antara Portugis dengan armada bajak laut yang dipimpin Ndoke Rua tadi. Louis Fernando dan Djebe Djawa meninggal dalam pertempuran itu. Kemudian si Rendo bersama seorang dayangnya bernama Tonjo lari, bersembunyi dan akhir cerita itu, mereka meninggal di ekoreko. Hingga saat ini, cerita itu berkembang ditengah masyarakat dengan sebutan Rendo Rate Rua (=Rendo yang memiliki dua kuburan). Bapak Bung Karno (presiden RI pertama) pernah mengangkat cerita itu dalam sebuah pentas bersama klub drama Toneel Kelimutu-nya sewaktu pembuangan beliau di Ende tahun 1934 – 1938…”

 

4 thoughts on “Taffakur di AMBU RE MBOTU (01)

  1. teidhato berkata:

    Eja, Ekoreko saya temu di Google. Baca tulisanmu aku jadi ingat embu jao ta fai sa imu datang dari Keo. Ine noo ko ine jao ata Mauromba. Saya jadi bisa omong londo ni. Jadi ingat kalau ada bele-bele dari Pulo datang dengan perahu layar. Ada sisa uwi ai rebus , yang enak punya dari Pulo. Dan yang paling saya ingat bele-bele saya kalau makan. Ikan sepotong kecil apapun akan jadi teman makan uwi ai ndota atau nasi sepiring penuh. Kata om-omku miu ata Keo na ka pirdu membo. Salam Eja. Blog Eja sare. Saya lagi ingin cari bentuk blog yang mewartakan fakta. Teidhato.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s