Harimau Mengaum di Pulau Ende (03)

Lanjut dari cerita kedua ……

Baiklah…setelah mengunjungi benteng Portugis Pulau Ende tadi, kami langsung naik ojek ramai-ramai menuju ke bibir pantai Ndoriwoy. MasyaALLAH..kulihat banyak rumah masih beratapkan ilalang. Beda jauh sekali dengan catatan sejarah tadi. Teman-teman bayangkan, dari tahun 1561 ke tahun 2011, seharusnya Pulau Ende maju dan modern.

450 tahun pembangunan ini..tak membawa arti apa-apa buat mereka disini. Memang sih bangunannya sudah cukup banyak, rumah, sekolah, tempat ibadah dllnya…tapi koq jarang terpelihara ?

Apa saya yang saya lihat ataukah kamera ini yang salah jepret? coba lihat sejenak…

IMG_0036

IMG_0046

Inikah yang dinamakan perubahan akan kesejahteraan? Saya rasa belum cukup untuk mengatakan bahwa pembangunan di Pulau Ende telah Final. Kalau saya tengok secara kasatmata,ada beberapa persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat a.l :

1. Air Bersih. 

persoalan mendasar yang melilit warga Pulau Ende, karena hingga sekarang belum semua warga terlayani Air Bersih.

2. Kesehatan

kalau ini dampak lanjutan. Gizi anak menjadi prioritas penanganan. Selain itu perilaku warga yang kadangkala BAB sembarangan dan tidak terpelihara dengan baik pola hidup kesehariannya.

3. Lingkungan

Abrasi pantai. yang sedang kami tengok sekarang…

dan seabrek urusan yang masih PR buat seluruh Stake Holders terkait untuk memikirkan bersama.

Biaya Hidup

Secara topografi, Kecamatan Pulau Ende 18 km dari ibukota kabupaten Ende. Komunakasi pembangunan hanya bisa melalui transportasi laut. Dari analisaku bahwa dengan adanya topografi yang sulit serta kekurangan beberapa kebutuhan mendasar tadi menyebabkan biaya hidup warga akhirnya membengkak.

Rata-rata dalam sebulan mereka harus mengeluarkan biaya Rp. 1 juta untuk memenuhi kebutuhan hidup kesehariannya. Mengapa? air masih dibeli. 1 jirgen 1000 rupiah. Belum termasuk kalau yang ambil galon air di kota Ende yang harganya 4.000 rupiah. Selain itu sayuran dan kebutuhan lainnya harus dibeli di kota Ende. Naah, kalau plus ongkos perahu motor bolak-balik tiap hari maka alangkah sangat mungkin mereka harus menghabiskan biaya sebesar itu…kawan…

selama perjalanan termasuk dilanjutkan ke Kampung Baru desa puutara…banyak sekali pertanyaan yang masih tersisa di benakku….   

 

3 thoughts on “Harimau Mengaum di Pulau Ende (03)

  1. baskoro berkata:

    kira-kira empat jam saya injakkan kaki di pulau ende, empat tahun lalu, jauh dari hiruk pikuk kemodernan tapi kaya dengan kearifan. maka tak perlu risau untuk selalu bergelimang hingar-bingar dunia. luar. buka jendela hati buka pintu ilmu pengetahuan.

  2. a.asni berkata:

    banyak kekayaan alam bahaqri di pulau ende yang belum di mamfaatkan secara maksimal di karenakan minimnya pengetahuan dan wawasan,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s