Nelayan ENDE dan Kesederhanaannya

IMG_0030 copy

Pagi hari ini,tidak ada yang begitu menarik dari rutinitas keseharianku. Selain beres-beres membersihkan rumah, sepeda motor dan beristirahat di tenda sambil bermain-main dengan harmonika kesayangan sambil menyanyikan lagu Desaku Yang Kucinta.

Namun, hari ini ada janji akan bertemu dengan tamu jauh. Tidak tanggung-tanggung dari Amerika. Just a Woman . Dia datang dari jauh untuk melakukan penelitian tentang nelayan kami di Ende.

Pertanyaanku…koq begitu pentingkah Ende hingga ada yang mau datang jauh-jauh dan bahkan dari Amerika hanya untuk menengok “nelayan” kami ? Adakah sesuatu yang menarik dari nelayan kami?ataukah ada yang menginformasikan keberadaan nelayan kami hingga begitu jauh terdengar sampai ke negeri bule?

Hmm..rasa penasaranku tidak terjawab semuanya ketika Jhonny,Ka Yasin beserta keluarga dari Arubara datang ke rumah pagi ini. Kulihat ada seseorang asing, berkaos,bercelana pendek dan tas ransel di pundaknya datang bersama mereka memberi salam di rumah. Assalamu alaikum…Selamat Pagi. Dia memberi salam dan kujawab dengan Waalaikum salam dan selamat pagi juga.

Saya pun menyuruh masuk para tamu khususnya teman baru Amerika ini dan mempersilahkan mereka duduk. Dia pun memperkenalkan diri dan kami berbincang panjang lebar tentang maksud tujuan kedatangannya dari Amerika ke Ende. She know just English Language and Indonesian litle-litle. Maksudnya Dia bicara Bahasa bule dengan sedikit Bahasa Indonesia yang belepotan. Saya pun coba mengimbangi dengan Bahasa Indonesia dan sedikit Bahasa Bule yang belepotan pula. Jadinya rame deh…ha…ha…ha….

She Interesting to Our Fisherman 

IMG_0005

Mrs. Victoria

Sambil meneguk segelas teh, dia pun bercerita bahwa kedatangannya untuk meneliti sejauh mana karakter dan pola hidup masyarakat nelayan di Kabupaten Ende. Bagaimana tata cara dalam membuat perahu, tata cara melaut dan kalau perlu sejarah yang melatarbelakangi kehidupan nelayan di Ende hingga sekarang ini.

Hmmm….aku menarik napas panjang. Harus memulai dari mana cerita ini. Soalnya yang kusaksikan dan kualami sejak aku lahir,masa kecilku hingga sekarang ini, aku belum tahu banyak tentang mereka, berbaur dengan masyarakat nelayan, tentang hal-hal yang spesifik menyangkut kehidupan mereka.

Yang kuingat hanyalah  sebuah lagu masa kecilku yang mengalun ketika kududuk dibawah pohon waru di pesisir pantai itu, seorang nelayan mulai bertolak dengan sampannya menuju ke tengah laut. Sambil mendendangkan lagu :

TINANG LE

TINANG LE

TINANG LENGGANG….LENGGANG PAGI SORE

TINANG LE

( 2x )

PUKUL DELAPAN…PUKUL SEMBILAN

SAMPAN BERANGKAT…SAMPAN BERANGKAT

TINANG LE……

Sejarah Nelayan Ende

IMG_0098 copy

Saya tak tahu banyak. Kata bapak tua,bahwa dahulu kala Kabupaten Ende sudah berbaur dengan laut. Bahkan budaya,bentuk perahu, bahkan cara menangkap ikan banyak mengadopsi dari budaya luar.

Tidaklah berlebihan kiranya kalau kita patut berbangga bahwa Kabupaten Ende dibangun oleh leluhur dan para pendatang yang kebetulan sejak jaman sebelum Portugis dan Belanda datang sudah memberikan sumbangsihnya bagi peradaban masyarakat Ende hingga sekarang. 

Sebut saja : Yunan China Selatan dengan perahu bercadiknya, Romawi dengan bentuk sampan, Majapahit dengan ukiran sampan, Dayung dan dendang lagu dari Makassar dan Parsi, bentuk umpan dan kail dari India dan bahkan cara melihat bintang dan kalender sudah lama diadopsi dari Bangsa Mesir, Babylonia dan suku Maya Aztec. Belum lagi jala,pukat dan seabrek peralatan lainnya sebagai bagian sumbangsih pendahulu dari Jawa, Maluku, Bima, Sumatra dan bagian Indonesia lainnya yang datang yang telah memberi warna buat kehidupan budaya Nelayan Kabupaten Ende.

Presumably it is no exaggeration if we should be proud that Ende built by the ancestors and the newcomers who happened since the days before the Portuguese and Dutch came to have contributed to the civilization of society Ende until now.

Say it: Yunnan in South China by boat bercadik, Roman with a canoe, Majapahit with carved canoe, paddle and sing a songs from Makassar and Persia, the form of bait and hook from India and even how to view stars and the calendar has long been adopted from the Egyptians, Babylonians, Aztecs the Maya. Not to mention the nets, trawl and has lot of other equipment as part contribution to the predecessor of Java, Maluku, Bima, Sumatra and other parts of Indonesia who came who have given the color for the cultural life Fisherman in Ende.

Dahulunya kita tidak mengenal sampan ataupun perahu motor ataupun kapal kayu. Yang nenek moyang kita tahu hanya sebatas rakitan bambu yang disatukan menjadi perahu. Sejarah sudah membuktikan bahwa dahulu kala manusia purba sudah menjelajah laut ende,flores dan sawu dengan rakit bambu. Hingga ketika portugis dan Belanda turut memordenisasikannya.    

Inilah kisah kecil yang bisa saya ceritakan kepada Mrs.Victoria tentang keadaan nelayan kita, berharap bahwa dia akan banyak menulis dan mempublikasikan ke Amerika tentang semuanya. Siapa tahu dengan informasi melalui tulisan-tulisan thesisnya akan banyak dibaca oleh para bule dan menulis tentang kita.

Dengan sendirinya mereka akan banyak datang berwisata ke pesisir Kabupaten Ende, minimal mengenal dan berbaur serta merasakan nikmatnya makan ikan di pinggir pantai bersama nelayan kita.

********************

Mrs.Victoria :  Doctoral Candidate University of Georgia, USA

One thought on “Nelayan ENDE dan Kesederhanaannya

  1. RomoWage berkata:

    Nusantara itu luas, setiap daerah mempunyai daya tarik, tulisan ini bagus sekali dan mampu meperlihatkan kekayaan nusantara. Sukses dan salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s