Hidup ini Terlalu singkat untuk Dijalani

Gadis kecil

Aku lihat seorang gadis kecil asyik bermain-main dengan siput laut yang baru ditangkapnya sore itu di Pantai Ria. Begitu senangnya, hingga tak disadari senja itu mulai turun dari peraduan tuk beristirahat melepas lelahnya.

Sore ini memang cuaca tak bersahabat, hingga hujan pun turun membasahi ranting-ranting daun kelapa yang bertengger dengan gagahnya di pinggir pantai itu.

Kulihat gadis kecil berjilbab yang sedang bermain tadi berlari kecil menaiki anak tangga menuju ke sebuah pohon kelapa muda, tempat beristirahat yang paling dekat yang bisa dijangkaunya.

IMG_0207  

Angkutan umum sudah tak ada dan ia kesulitan untuk pulang. Maka ia memutuskan untuk bertahan di tempat ini.

“Om, bolehkah saya duduk di sini?” tanya gadis kecil itu kepadaku yang sedang asyik duduk memandang senja dibawah pohon kelapa.

“Boleh nak! tempat ini milik siapa saja yang mau berlibur ke pantai” jawabku.

“Memangnya pantai ini dulu dibangun oleh siapa?” dia membuka obrolan.

“Oleh mereka yang peduli, yang pernah datang dan mencintai pantai ini ” jawabku dengan pongahnya.

“Lalu mereka sekarang mereka dimana?” Anak kecil ini tidak mau kalah.

 “Hmmm…….mereka telah meninggal semuanya” jawabku, sambil menarik napas panjang.

“Sesudah mereka tidak ada, aku dan sahabatku pernah bertamasya disini. Tetapi tiga tahun yang lalu dia meninggal, lalu om memutuskan untuk datang sendiri ke taman ini. “Aku mencoba bercerita dalam hati.

“Lalu kenapa Om baru cerita tentang taman ini?” Tanya si anak kecil itu, “Koq, pengunjung taman ini selalu berganti? selalu datang dan pergi ?”

“Begitulah hidup, Ine. Siapapun tahu bahwa hidup adalah sebuah proses yang singkat. Penghuni bumi selalu berganti, dari generasi ke generasi – dari keturunan ke keturunan. Orang Ende berfilsafat bahwa “Muri naa sama ngere minu ae sekombe ree pu’u nio.” ( hidup itu cuma sekedar mampir untuk minum air kelapa ini tuk semalam saja).

“Seperti halnya seseorang yang tengah melakukan perjalanan panjang di taman ini, ia akan berhenti sejenak untuk minum air kelapa muda dan bertamasya sebelum melanjutkan langkahnya untuk bekerja kembali. “

“Saat Engkau melepas lelahmu dan ‘berhenti minum’ di pohon ini, itulah yang kemudian disebut hidup. Nak, jagalah hidup yg kita lalui ini dengan sebaik baiknya… Karena tidak ada yang menjamin bahwa kita bisa hidup lebih lama lagi didunia ini…. “

Gadis kecil ini begitu asyik mendengar ceritaku, hingga matahari terbenam dan ia pun pamit untuk segera pulang.

Hmmmm….

Aku menarik napas panjang, sambil melambaikan tangan dan berdo’a agar ia selamat tuk melepasnya pulang. Kuingat, lambaian tangan ini pernah kulambaikan pada sahabatku yang telah lama pergi meninggalkan aku tiga tahun yang lalu.

Yaa…sahabat terbaikku. Ketika kami pernah bermain siput laut di Pantai ini, seperti seorang gadis kecil berjilbab yatim piatu itu, yang telah ditinggalkannya untuk pergi selama-lamanya. 

“Nak…senyummu seperti sahabatku……………. “

 

One thought on “Hidup ini Terlalu singkat untuk Dijalani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s