PENGUNGSI TIMOR-TIMUR dan DERITA POLITIK

Tanah air beta“………Ketika Timor-Timur berpisah dari Indonesia, perisahan harus terjadi, terhadap dua kakak beradik yang saling menyayangi, mereka terpaksa harus hidup dalam kondisi dan lokasi yang berbeda, dikarenakan kepentingan yang sangat tidak mereka mengerti, menjadikan Merry (10 th) harus tinggal berdua saja dengan ibunya…Tatiana (29 th) disebuah kamp pengungsian  di Kupang NTT. Sementara kakak laki-lakinya Mauro (12 th)  tinggal bersama pamannya… di Timor Leste!

Tatiana dan anaknya…Merry, hidup di sebuah kamp pengungsian bersama ratusan ribu orang pengungsi lainnya. Di antaranya Abubakar seorang keturunan Arab yang sudah turun temurun hidup dan tinggal di Timor-Timur

Tatiana mengajar di sekolah darurat di kamp tersebut. Merry juga bersekolah di tempat itu bersama Carlo seorang anak laki-laki yang sangat jail dan suka menggangu Merry, itu dikarenakan Carlo ingin sekali  mempunyai seorang adik dan merasakan kembali cinta kasih  keluarga

Kehidupan yang sangat berat di sebuah kamp pengugsian dan di tengah ketidakpastian akan keberadaan anak laki-lakinya, tidak membuat Tatiana menjadi lemah. Kerinduan Merry akan kakaknya dan penderitaan yang begitu mendalam dari sang ibu…menjadikan Merry, anak perempuan yang cerdas dan nekad.
Suatu hari Dari seorang petugas relawan, Tatiana mendapatkan informasi bahwa ada kemungkinan ia bisa bertemu dengan anak laki-lakinya

Dapatkah Tatiana bertemu anak laki-lakinya? Dapatkah Merry berkumpul dengan Mauro kakaknya?…”

**

Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada “KICK ANDY SHOW” yang telah menayangkan kisah PENGUNGSI TIMOR-TIMUR di metro tv, Minggu, 13 juni 2010. Kesempatan kedua,secara pribadi saya haturkan terimakasih tak terhingga kepada Alenia Pictures – Ari Sihasale dan Nia Zulkarnain yang telah memproduksi film TANAH AIR BETA, yang mengangkat kisah anak negeri kami tercinta, pengungsi TIMTIM di tanah FLOBAMORA.

Timtim1 

anak negeri kami, Warga eks pengungsi Timor Timur (Timtim) di NTT

Sedih…., itulah gambaran pertama yang bisa saya saksikan dalam tayangan ini. Mengapa? terus terang, saya tidak tahan melihat begitu menderitanya “saudara-saudara” saya yang hidup di tenda pengungsian. Anak negeri kami tercinta, pengungsi TIMTIM di tanah FLOBAMORA.

Hmmmm…….

Setiap manusia, pasti tidak pernah menginginkan hidup menjadi pengungsi di tenda-tenda penampungan. Demikian pula halnya dengan orang Timor Timur yang harus bertahan di tanah tandus saudara tuanya di propinsi NTT. Tentu tak seorang pun di antara mereka yang pernah membayangkan sebelumnya bahwa dirinya akan menjadi pengungsi. Tetapi takdir berkata lain. Kenyataannya kini mereka terpaksa menjadi orang terusir dari tanah kelahirannya dan hidup di tenda-tenda pengungsian.

Timtim4

gbr : Reka ulang suasana eksodus para pengungsi dari Timor Timur menuju wilayah NTT

limbah” politik ?


Sebagaimana pengungsi pada umumnya, gambaran keseharian pengungsi Timor Timur amatlah memprihatinkan: tinggal di tempat yang kumuh dalam keadaan yang serba kekurangan. Penderitaan ini masih barengi pula dengan adanya semacam stigmaisasi sebagai kaum marginal dari penduduk sekitar. Malah secara lebih menyakitkan, Gubernur NTT pernah menyatakan para pengungsi Timor Timur itu sebagai “limbah” politik yang membebani pemerintah daerah. Secara akumulatif, fenomena itu telah membuat para pengungsi Timor Timur memikul beban psikologis yang amat berat, yang boleh jadi, telah mengakibatkan sebahagian di antaranya telah mengalami depresi mental yang cukup serius. Sehingga para pengungsi Timor Timur menjadi sangat sensitif dan gampang emosional setiap kali berhadapan dengan peristiwa atau mengalami perlakuan-perlakuan yang kurang menggembirakan menurut kacamata pengungsi itu sendiri.




Sebagai gambaran, bahwa pada tahun 2000 yang lalu, pemerintah NTT telah menganggarkan biaya penanganan pengungsi sebesar Rp 68.920.400.000 (enam puluh delapan milyar sembilan ratus dua puluh juta empat ratus ribu rupiah) yang jumlahnya diperkirakan 28.553 KK atau sekitar 142.765 jiwa. Dana tersebut dipergunakan untuk membiayai pembelian beras , bantuan lauk pauk, pelayanan kesehatan, pelayanan air bersih, biaya pendidikan.


Untuk tahun anggaran 2001, antusiasme pemerintah untuk membantu para pengungsi Timor Timur tak pernah surut, malah jumlah anggarannya meningkat enam kali lipat dari tahun sebelumnya menjadi Rp 468.800.000.000 (empat ratus enam puluh delapan milyar, delapan ratus juta rupiah) untuk membiayai kegiatan-kegiatan pembangunan berupa pembuatan rumah dan infrastruktur lainnya.


derita diatas derita


Tetapi nuansa di balik itu. Bahwa ternyata ada pejabat Dinas Sosial yang pernah diperiksa oleh pihak Kejaksaan Tinggi NTT sehubungan dengan dana bantuan pengungsi sebesar Rp 30 milyar lebih. Bahwa ada Pengurus DPC ……. di Kabupaten Belu yang berurusan dengan kepolisian setempat atas sangkaan tidak becus dalam pembagian bantuan untuk pengungsi Timor Timur dari induk organisasinya. Bahwa ada pula Kaditsospol NTT (Surya Timor, 25/2/2000) yang diduga telah membelanjakan milyaran rupiah sisa dana KPU dengan alasan membeli HT untuk pengungsi di 12 kabupaten di NTT.


kewajiban moral dan politik


Timtim6


gbr : Maria mengambil Air di Sungai_Kering


Sungguh sangat menyedihkan bahwa di balik besarnya biaya penganan pengungsi Timor Timur seperti dikemukakan di atas, masih sering pula muncul keluhan-keluhan dari para pengungsi Timor Timur yang merasa amat kekurangan. Dan pada kenyataannya, keseharian mereka secara faktual memang masih stagnan, tidak beranjak dari keprihatinan semula.


Oleh karena itu, maka secara moral politik dan berdasarkan pertimbangan kemanusiaan, pemerintah Indonesia maupun badan-badan internasional sangat berkewajiban untuk memberikan perhatian secara intensif kepada pengungsi Timor Timur. Tuntutan seperti ini tentunya tidak perlu dikonotasikan secara berlebihan sebagai perlakuan ‘pilih bulu” yang tidak berkeadilan. Melainkan harus difahami secara bijaksana sebagai tanggung jawab moral dan politik yang mau tidak mau, harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan masyarakat internasional. SEMOGA……

*******

source: http://untas.org

4 thoughts on “PENGUNGSI TIMOR-TIMUR dan DERITA POLITIK

  1. indobrad berkata:

    dan mirisnya lagi harus sampai dibuat film dulu baru orang bisa tergerak.

    salam kenal dari blogger depok. kunjungi blog saya juga ya, ada refleksi film Tanah Air Beta juga di sana🙂

  2. Panda berkata:

    semoga saudara kita eks pengungsi Timtim tabah. Pasti ada jalan terbaik, Tuhan pasti melawat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s