Kecamatan Kotabaru….Sabana 1000 Potensi (2)

Siulan Malam di Kelong

Mungkin Pembaca budiman belum paham sebutan “kelong”. Ok, saya kasih gambaran sedikit. Dibawah ini gambar Kelong yang saya ambil dari pesisir pantai disore hari.

IMG_0089

Tampak di kejauhan 2 buah perahu kapal “kelong” sedang merapat. Semalam, kami sempat istrahat dan tidur didalamnya. Asyik bukan? Mungkin Anda yang sudah pernah kesana tentu terbiasa, tapi bagi rekan-rekan yang belum….hmmm…betapa nikmatnya duduk diatas perahu ini dengan segelas kopi dan sebatang rokok…   

Suasana malam itu memang luar biasa. Saya benar-benar merasakan keindahan laut pertiwi ini. Angin sepoi dari bukit menghempas senyap meniup sisi balok bercadik sang Kelong. Ikan terbang dan cumi-cumi terlihat berenang dibawah lampunya. Kulihat pula ikan kecil kian kemari bersembunyi di bunga karang, seakan menyapa kami untuk terus bercengkrama dengan mereka.

Deburan ombak pantai perlahan kudengar dari kejauhan. Kusandarkan punggungku di tiang kapal sambil bersiul kecil menyanyikan lagu “Indonesia Tanah Airku”…..

Tanah Air

Ku tidak kulupakan

Kan terkenang, selama hidupku

Biarpun saya

Pergi jauh

Tidak kan hilang

dari kalbu……

Akhirnya mata pun terpejam…..

Sepiring Nasi dan Cumi

Pukul 3.00 pagi, saya tersentak bangun dari tidur. Teman-teman nelayan sudah pada menunggu di Kelong yang lain. Mereka mengundang kami untuk makan malam.

Sambil berjalan sempoyongan, maklumlah kurang tidur, saya pun menyisir balok-balok bercadik penyangga badan Kelong. Salah injak, Anda akan kecebur ke laut…ha…ha…ha…..  

Ooo…mereka sudah siap dengan sepiring nasi dan cumi goreng. Luar biasa, suasana begitu ramai dan gembira. Kebetulan Kelong ini baru pulang dari melaut, ikan tongkol dan cumi kulihat bertebaran disana-sini. Ada yang sudah diisi dalam gentong untuk dijual besoknya.

Gumanku…”koq banyak sekali yaa…produksi nelayan disini?. Kata mereka, bahwa hasil ini ada yang dijual ke Maumere (kabupaten tetangga) serta ada yang dijual ke Pasar Kotabaru. Sisanya untuk mereka bawa pulang.

Kami pun makan bersama ditemani lampu teplok kapal. Hmmm, nikmat sekali ikan cumi goreng. Habis 1 tambah 5…sampai perut ini sudah tidak mampu lagi menahan beratnya ikan…ha…ha…ha….

Pagi di Keramba

Pukul 06.00 pagi, kami bangun dengan badan segar. Matahari pagi di ufuk timur membelah laut, menyusur ombak bergulung. Kami pun bersiap-siap kembali ke darat,

Dengan naik perahu kecil, kami diajak AMPI berkeliling ke “keramba” miliknya. Keramba ini semacam jaring yang dipasang mengelilingi bidang persegi yang keempat sudutnya diberi pelampung. Nah, didalamnya tuh ditaruh bibit ikan untuk dipelihara. Ya, semacam kolam kecil alami ditengah laut.Kata AMPI, ikan ini terus dipelihara hingga beberapa bulan sampai besar. Kemudian dipanen. Jadi Anda tidak butuh lahan, Air dan peralatan lainnya untuk memulai.  Praktis bukan?

Tidak berapa lama, kami kembali menepi ke daratan, istrahat sejenak dan berangkat untuk melanjutkan pekerjaan kami membuka jalan dusun ini…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s