Lebaran bersama KETUPAT ENDE

IMG_0015

 Hmmm….lezatnya resep masakan ini….apalagi kalau sudah jadi kari ayam? terasa tambah melayang. Kapan yaaa, waktunya berbuka. Tak sabar lagi menunggu detik-detik saatnya berbuka di hari terakhir berpuasa….

Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 15.00 WITA. Saya masih duduk dengan lemas didapur menunggu berbuka.  “Hmmm….Daripada mikir perut, cabut saja bulu-bulu ayam yang baru disembelih tadi, supaya tetap semangat. Lagipula wangi daun pandan untuk resep ketupat begitu menggoda” :siiip deh, sembari mencabut bulu-bulu ayam dengan semangat.

Hari ini, hari terakhir puasa. Badanku kayaknya mau meriang. Soalnya beberapa hari ini lelah sekali karena baru pulang buka pelatihan di Kabupaten Ngada. “Sepertinya aku mau sakit malaria nih. Waaah…bisa repot tuh, besok khan hari Lebaran.” pikirku. “Begi, tolong buat ketupat secepatnya, setelah itu kamu pakai kamera ini dan langsung ke pasar yaa. Foto dan rekam apa saja lah, biar ada cerita untuk rekan-rekan di rantuan”.: Saya langsung memberi kamera padanya dan meminta tolong untuk secepatnya ke Pasar.

IMG_0014

Kari Ayam dan eja kera (kawan-kawannya)

Naah, berikut ini suasana pasar dan obrolan mereka menjelang lebaran yang sempat direkam oleh Begi. Saya pakai 2 bahasa, bahasa Ende dan Bahasa Indonesia biar mudah untuk dipahami buat Anda.

Tukang Ojek dan Pasar Kaget

Ojek : “Eja, foto ja’o ngenie.” (Kawan, foto saya juga dong)

Begi : “Iwa, Eja. Ndie ja’o wii foto spanduk penore. (Tidak, kawan. Saya mau foto spanduk disana itu saja) 

Ojek : “Eja, foto spanduk wita’apa ndeee….foto ja’o maja paa”. So’o sare bhane (Kawan, ngapain foto spanduk….mendingan foto saya saja”. khan lebih keren).

Begi  : “Meko kii, Eja. Ngasi woso-woso wee…maza uru nia ko’o eja so, foto ndie mbanga memma soo….”. Haa…haaa..haaa…. ( Biarlah kawan. Walaupun dimarahin….kalau ambil wajahnya kawan, ntar gambarnya kebakar semua…..”)

Ojek  : “Setta ko Ejae….ha..ha..haa….” (Ada-ada saja kawan..ee…ha…ha…ha)

IMG_0030

Selamat datang di pasar murah ramadhan. Tampak sudut keramaian pasar kaget dekat sekolah SMEA lama jalan kemakmuran (pertokoan)

 

Halimah (pembeli) dan Dullah (penjual rombengan)

IMG_0023

Halimah : “ Ka’e, ndie sa’apa naa ?( Ka, ini harganya berapa ya?) 

Dulla     : “ 25 ribu pas ka, wetta”( 25 ribu itu sudah pas, saudari)

Halimah : “…..Ma’e mbi wezie, miu ata nara, ne’e kami ata wetta na, tekka wezzi paleki” ( jangan terlalu mahal dong, kamu kan saudara kami,koq…jual mahal sekali”

Dulla     : “ Iwa wetta, justru ne’e miu na, kami patti mura. Wi nge’embe so, miu ana ko’o bele kami, saza ko wazi soo”.(Tidak saudari, justru kami kasi harga yang murah. Mau bagaimana lagi, kamu kan anaknya om/pakde/paman, entar disalahin lagi”

Halimah : “ O’o lee, miu na…mura tazoko. Wesia-wesia iwa susah, mai mbana ono kami na, iwa mbetta wezi. Zambu miu tekka mura peka pendie naa…” (Iya dong, kalian tidak bisa kasih murah ka? Besok-besok tidak susah, kalau datang lamar tidak perlu ngantar belis/hantaran lagi. karena baju kamu sudah jual dengan harga yang murah)

Dulla     : “Mozo si wetta. Pas pekka, Nia ruu ne’e kami. Maza zimbasi 20 ribu. Ma’e kezzo bhaze sa’o, sodho abe bele, wesia kami mai ono kaa. Haa…haa…haa….”(sudahlah saudari. Dikasih harga pas, salah lagi. Muka cemberut sama kami. Ambil saja deh 20 ribu. jangan lupa entar pulang, bilang ama om-nya, besok kami datang lamar lho. ha…ha…ha…

Pak Haji dan Penjual Minyak Angin

IMG_0028

Penjual Minyak Angin : “ Ka’e Pa Aji, nggae apa ndee…..”( Pak Haji, sedang cari apa?

Pak Haji                  : “Iwa, ane. Ja,o ziggi enge”(Tidak teman, cuman keliling-keliling doang”

Penjual Minyak Angin : “bhaze sii..zera pettu. Ma’e mbi ziggi jaga nggobhe ko’o pak Aji ozo ziggi ngeni soo….”( Sudah, pulang saja. jangan terlalu keliling, takutnya topi pak haji entar ikutan keliling/pusing juga…”

Pak Haji                  : “ Ane ma’e kii pikki. Ja’o taku apa soo…Ane senna tekka minyak angin. Ja’o mboka, ane tinggal koma wee” (Teman jangan terlalu khawatir. Ngapain takut, teman ada jualan minyak angin. kalau saya jatuh pingsan, teman tinggal gosok saja minyak anginnya. beres kan…) 

Penjual Minyak Angin  : “ Tumbe’e pa Aji, so pawe wezi,supaya minyak angin jo wi lakku zama”( betul pak haji, lebih bagus lagi, supaya minyak angin saya cepat habis…)

Penjual Ketupat dan Penjahit Emperan Toko

Naah, kalau yang ini silahkan diceritakan….

IMG_0021

IMG_0052

 

Kudapat banyak makna tentang kehidupan masyarakat Ende kecilku yang sarat dengan cerita humornya dalam mempertahankan eksistensi keberlangsungan hidup mereka.

Ketupat telah menjadi rutinitas mereka di sela-sela menyambut lebaran. Ternyata, ketika kita menikmati ketupat buatan sendiri diakhir ramadhan di sore itu, mereka masih bergelut untuk mengais rejeki, demi mendapatkan sesuap nasi. Siapa tahu untuk dibuatkan ketupat esok harinya.

MINAL AIDIN WAL FAIDZIN….saudara-saudariku…..TUHAN memberkahi keringat kalian.

 

5 thoughts on “Lebaran bersama KETUPAT ENDE

  1. ade berkata:

    wah… sare2… keren abiz. kayaknya butuh bahasa ende lebih banyak lagi nie…. kebetulan mau penelitian bahasa ende di komparasikan dengan bahasa Inggris nie. minta bantuannya donkkkk…. email jao. ade_elsyafirah@yahoo.com. thank U. terima kasi e,….

  2. rizal berkata:

    eja,saya tinggal di bogor bisa ga di muatin lagu2 ende di sini, soalnya kangen banget nih ama kampung ateau mbongawani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s