Merah Putih di kota Pancasila (02)

Yang dinanti, hari merdeka tlah datang kembali. 63 tahun, masyarakat kami menyambut 17–an-nya. Umbul-umbul dan hiasan warna-warni begitu menggoda seakan berucap selamat datang tamu negeriku. Silahkan mencicipi kue kemerdekaan kami.

Dari dulu gapura yang kulihat sangat sederhana. Dua ban bekas, lima batang bambu, tiga tapir padi untuk angka tujuh belas-delapan-empat lima,  kain warna-warni dan dua kaleng cat minyak. Itu sudah luar biasa bagi mereka yang tidak pernah merasakan kenikmatan kursi sofa kekuasaan. Rakyatku diperintah?tidak. Rakyatku dibayar?tidak juga. Rakyatku mengupas bambu itu dengan kesadarannya sendiri.

Bukan besarnya uang yang rakyatku hitung, tapi nilai dan semangat itu yang terpenting. Semangat untuk mencinta negerinya sepenuh jiwa raganya.

03

Umbul-umbul ini pernah bicara :“ Kalau anda penguasa tidak bisa menaikkan nilai mata uang rupiah terhadap segerombolan penjajah bule, maka rakyat dan aku umbul-umbul ini sendiri yang akan menghadapi mereka…!!”

 Kalau kalian penguasa terus kuras harta bunda pertiwi kami, maka tapir padi di gapura ini akan kami cabut dan kami jadikan tameng untuk menghadapi kalian dan bule-bule itu…!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s