Taffakur di AMBU RE MBOTU (03)

Sekilas Sejarah Embu Re Mbotu

Rekan-rekan, akan saya ceritakan sekilas sejarah Embu Re Mbotu ini. Kata Embu Re Mbotu dibagi ats 3 suku kata. Embu = Kakek, Re=di, Mbotu=Bukit/puncak gunung. Kalau diterjemahkan singkat = Kakek di puncak bukit.

Menurut sejarah yang saya dapatkan dari wawancara dan pengamatan langsung pada pendakian ke puncak ini, bahwa tempat ini sebenarnya adalah tempat sujud atau tempat beribadah seseorang atau beberapa ulama yang pernah tinggal, pernah singgah dan menyebarkan agama Islam pertama di Pulau Ende. Konon kedatangannya cukup fantastis, yaitu dengan selembar pelepah daun aren. Kabar kedatangannya cukup misterius, namun yang pasti bahwa kedatangan mereka bersama ajarannya, jauh sebelum kedatangan Portugis tahun 1561. Hal ini dikutip dengan nota tulisan tangan Controleur Belanda B.C.C.M. Van Suchtelen yang menyebutkan bahwa ketika datangnya Portugis, telah ada penduduk pribumi di Kemo dan Jogo. Telah ada pula pedagang-pedagang Islam dari Makassar, Bima dan Jawa. Serta pedagang dari tanah seberang yaitu Parsi-Gujarat.

Keanehan Embu Re Mbotu

Sekilas memang…tampak tempatnya kecil dan elastis (mohon maaf tidak dapat saya publikasikan), elastis artinya berapa orang pun yang datang sanggup dimuatnya. Tempat ini dilihat dari geologisnya memiliki struktur bebatuan yang unik, sekilas ada satu lubang diatas tempat ini yang dapat tembus ke bawah dasar laut. “….. Aneh…..” . Bahkan 2 pohon aren yang ditanam sejak dahulu kala tidak pernah tumbuh besar. Artinya tetap kecil seukuran setengah lengan (30 cm) sampai sekarang. Disekitar pohon pun demikian. Rata-rata kerdil ukurannya. Hipotesa saya sementara ini bahwa, tempat ini memiliki unsur medan magnet positif yang cukup besar.

Konon kabarnya…bahwa banyak penduduk pulau Ende yang akan berangkat haji, terlebih dahulu harus bertaffakur di puncak ini. Entah apa yang ditemukan, yang pasti….sangat menajubkan….suasananya.

Taffakur

2 jam kami bertaffakur, bersujud membesarkan ciptaan Tuhan akan alam ini, sambil mengangkat hati seraya memohon perlindungan dan keselamatan kami pada Sang Pencipta. Terasa langit begitu dekat…hingga…tidak ada yang menghalangi kami untuk menengadah kepada-NYA.

Tuhan…..

Dalam sujudku ini….

Aku memohon kepada-Mu….

Tunjukilah Aku jalan yang lurus…

Naungi dan bimbing Aku di Jalan-Mu

Hingga akhir hayatku….

Akhir 2 jam itu pula, kami siap-siap untuk pulang kembali. Jam ditanganku menunjukan pukul 20.00 WITA ( jam 8 malam ). “….. Bayangkan….kami harus turun kembali kebawah di malam hari…?”. Selepas makan, kemudian mempersiapkan segala sesuatu, kami pun turun dengan leganya. Tidak ada rasa beban dan bimbang. Kami telah mendapatkan sesuatu yang positif diatas sana…yaitu…hening sejenak….mengingat dan bersyukur kepada Sang Pencipta….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s