Mencari BARA NOERI di Manungoo’o (01)

Kampung Kecil….sejarahnya besar….

Manunggo’o, sebuah kampung kecil yang belum pernah dijajaki ternyata masih menyimpan misteri tersembunyi. Lantas, begitu menarikkah Manunggo’o ini ?

18.00 sore WITA, gerimis di hari minggu itu, jejak-jejak kaki segerombolan pemuda pecinta alam GERDAPALA perlahan namun pasti mulai melakukan pendakian setapak demi setapak menyusuri kaki lereng Wongge.

Begitu menarikkah Manunggo’o… ?? yaaa…..Manunggo’o yang kita kenal adalah sebuah kampung kecil di lereng bukit Gunung Wongge, sebuah pelataran alam 5 km sebelah utara kota Ende. Manunggo’o menyimpan sejarah perang yang begitu dasyhat,

Manunggo’o menyimpan bukti-bukti peralatan perang yang dahulunya pernah dipakai untuk melawan penjajah Belanda. Disanalah Jejak dan Tapak kaki Baranuri bersama saudara-saudara seperjuangannya….

Foto(046)

Menyusuri Tapak kaki Baranuri……tuk mendaki….mencari sejarah yang hilang….

Foto(073)

Berfoto bersama sambil melepaskan lelah…

Medan yang cukup menantang, dengan bukit cadas dikiri-kanannya, tak membuat GERDAPALA surut semangat. Setapak kecil jalan ilalang dilalui dengan penuh kegembiraan.

Asap perang di rumah itu…

Sesampainya disana, kami disambut dengan ramah oleh sang pemilik rumah, Mosalaki (kepala adat), Bapak Yohanes Subu. Beliau menyambut kami dengan ramah dan mempersilahkan kami untuk masuk dan duduk di teras samping rumahnya, bersebda gurau bersama keluarganya.

Disana yang kutemui hanyalah keluarga kecil, dari Bapak itu. Tampak olehku, 2 rumah adat saling berhadapan. Yang satu adalah rumah kediaman utama Mosalaki dan yang satunya adalah rumah lumbung (tempat menyimpan bahan makanan dan memasak). “ rumah koq hanya ada 2 buah saja ?? lantas, mana yang lainnya, Bapak ? “, aku dan dkk mulai membuka pembicaran dengannya sambil memperkenalkan diri.

Foto(059)

Asap keluar dari rumah itu….tidak tampak olehku bahwa didalamnya sedang memasak sesuatu….

“ …..Begini nak ceritanya…”, sang Mosalaki mulai membuka pembicaraannya.

“….Kami beberapa tahun yang lalu sempat tinggal di Roworeke, setelah generasi ayah kami meninggalkan Manunggo’o. Saya dan keluarga akhirnya memutuskan untuk kembali keatas, di Manunggo’o ini, untuk membangun rumah adat. Hitung-hitung…mengenang kembali kampung kami yang telah hangus terbakar di jaman perang Baranuri dahulu….” .

Obrolan Malam itu…..

“….Dahulu…Baranuri, sang pahlawan perang Kabupaten Ende pernah datang dan berlindung di kampung ini. Dahulunya pula, rumah-rumah masih banyak. Bahkan, sebelum terjadi perang besar itu (Perang Baranuri/1870–1891), masih ada 2 kampung…. “.

“…Ketika Belanda datang dengan 2 kapalnya, menembakkan meriam ke Manunggo’o. 2 Kampung itu hangus terbakar tak ada sisa ”, sang Mosalaki menerawang sedih. “….begitu banyak pengorbanan kami untuk Baranuri, sang pahlawan yang ada di buku sejarah MULOK kalian. Namun, kampung kami yang hangus terbakar ini tidak disebutkan…..”.

Suasana berita Baranuri dan Manunggo'o

Suasana cerita Baranuri dan Manunggo’o di rumah adat itu….

Hmmm….Aku menarik napas panjang, ternyata keringat dan darah penduduk Manunggo’o harus diangkat kembali bersama kebesaran Baranuri. Banyak cerita yang kudapatkan…yang belum termuat di buku MULOK Perang Baranuri yang pernah kubaca. Bahkan, beberapa cerita menarik lainnya menjadi sumber sejarah baru untuk memperkaya wacana.

Makan bersama….

Suasana kekeluargaan menyelimuti kami 2 keluarga…keluarga GERDAPALA dan Mosalaki…sambil menghabiskan malam, kulihat Ende dengan lampu-lampu kecilnya di kejauhan seakan seperti kunang-kunang. Indah sekali…..suasana ini makin ceria ketika oerut kami yang sudah lapar ini disuguhi makanan ala kadarnya dari Mosalaki dan keluarganya yang baik hati….

Suasana masak Mie

Suasana masak di dapur….kebetulan mie yang kami bawa dimasak bersama beras dari keluarga Manunggo’o.

Sesaat setelah makanan dihidangkan…..ramai-ramai berdoa dan makan bersama. Setelah makan, Cerita kemudian dilanjutkan sambil menikmati keheningan dan dinginnya malam Manunggo’o.

Saya pun asyik mencari tempat bersandar. ditemani lilin dan sebatang rokok BLACK bersama Mul, Udin dan Agus duduk bersila di teras panggung rumah adat di Manunggo’o. Kami menikmati secangkir kopi panas, memandang lampu-lampu kecil kota Ende dari kejauhan dibawah sana. Pukul 24.00 malam, kami dipersilahkan tidur beristirahat di teras rumah adat.

 

 

 

 

 

 

3 thoughts on “Mencari BARA NOERI di Manungoo’o (01)

  1. farouk arubone berkata:

    pernah disebutkan dalam buku, biasanya disebut bengteng manunggo’o.
    tapi memang harus diakui kecenderungan sejarah adalah terlalu fokus pada tokoh utama, mengecilkan peran pendamping, orang2 yang setia rela menumpahkan keringat dan darah

  2. eman taji berkata:

    seharusnya ada catatan perjalanan Nuzi Bhara atau Bara Nuri sejak turun dari kampung asalnya di Pemo Ja moke asa,turun ke Onewitu kemudian berjuang bersama masyarakat Onekoze yakni Da Pau dan Deni Besy melawan penjajahan Belanda dengan membentuk benteng pertahan di onekore dikenal dengan nama benteng Sokondo i kemduian karena karena persejataan Belanda lebih bagus maka beliau bersama masyarakat onekoze bergeser ke Manunggo o dan membentuk benteng pertahanan disana dan selanjutnya……………bersambung…………

  3. willy amat berkata:

    WILAYA MANUNGGO ENDE SEKARANG MUNGKIN TERANCAM AKAN DI GUSUR DALAM PENGEMBANGAN KAMPUS UNFLOR ENDE,SAYANG SEKALI TEMPAT YANG HARUS DI LESTARIKAN DEMI SEJARAH ANAK BANGSA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s