Bulan, Bintang dan laut

Ikan Bakar…

 

Saya dan rekan-rekan GERDAPALA berencana kembali berangkat ke puncak Zeda Zamba. Perjalanan pertama, saya hanya bersama Agus, namun sekarang kami cukup banyak untuk berangkat. Sesuai rencana, kami menginap semalam di Arubara, sambil menyiapkan tenaga untuk berangkat pagi harinya.

Perjalanan malam melewati lembah Gunung Meja seakan menantang kembali kami dulu, namun tidak mengurungkan niat hingga kami tiba dengan selamat disana. Kami pun disambut dengan sederhana dan ramah oleh keluarga dan masyarakat Arubara. Suasana hangat dan keceriaan dari masyarakat Arubara ditandai dengan secerek kopi panas campur jahe tumbuk yang memang khusus disiapkan buat kami. Obrolan-obrolan akrab mengisi pertemuan kami di sabtu malam itu.

 

Tidak terasa perut mulai minta diisi, dengan sigap, Ka’e Yassin (kakak sepupu yang juga warga masyarakat di Arubara) mempersilahkan kami untuk makam malam di rumahnya. Dengan sigap pula teman-teman GERDAPALA menuju kerumahnya, yang tidak jauh dari tempat kami ngobrol. Wauww…di ruang tamu lesehan sudah siap 5 piring ikan kakap besar yang sudah diasapkan sebelumnya. Memang segar, apalagi ikannya baru ditangkap 2 jam lalu. Ada pula 3 bakul nasi putih dengan beberapa piring sayur singkong tumis bumbu kelapa dan sambal secukupnya. Suasana saat itu memang nikmat, buktinya dalam tempo setengah jam, semua hidangan dilahap habis!!.

 

Selesai makan, istrahat sejenak menurunkan perut yang sudah kenyang. Suasana semakin asyik, ketika kami bergegas keluar rumah menuju tepi pantai yang tidak jauh. Hanya berjarak 10 meter. Sambil bersandar di gundukan pasir Arubara, dimalam itu kami pun menikmati suasana sepoi angin malam dan desiran ombak pesisir pantai Arubara yang tenang. Memang, luar biasa indaaaah dan nikmaaat. Disekeliling kami ada batu karang, tegar menahan hempasan gelombang laut. Dikejauhan, rumah-rumah kecil yang diterangi lampu-lampu botol minyak. Memandang keatas, kumpulan bintang-bintang langit. Semuanya dibingkai oleh alam. Luar biasa indah. Seperti melihat Singapura dan Sydney di kala malam.   

Cinta Setegar Karang …

Hempasan ombak, sepoi angin malam, cahaya bintang,bulan dan tegaknya batu karang ingin mengisahkanku tentang kehidupan cinta manusia. Batu karang itu ibarat seorang anak manusia, yang tinggal di tengah kehidupan yang dijalaninya. Cinta itu adalah laut, setiap harinya sang cinta mencari pesisir pantai hati untuk dia berlabuh. Kadangkala dia tenang, kadangkala dia menghempas. Dikala tenang, bintang-bintang pun menemani dan memberinya harapan untuk terbang ke angkasa.

100_2888

“…..Wahai cinta, tidak sudi aku melihatmu berdiam sendiri….berharap menggapai sesuatu yang tak pasti…”. Mari bersamaku, lihatlah aku yang dikelilingi cahaya yang senantiasa menerangi rimba raya alam semesta. Gapailah aku, berkatalah kepadaku. Jangan engkau simpan dalam dasar lautan hatimu.  

100_1047 

 

Oooh…bintang, aku sekarang sedih. Yang kunanti tak kunjung datang dan kembali. Setiap hari aku ditemani duka yang tak berujung. Lihatlah…bukankah engkau tau…bahwa lautku adalah cucuran tangisku yang bahkan hampir menenggelamkan diriku?

 

Tiba-tiba bulan pun datang, seraya menyapa :”….haloo selamat malam cinta…aku kan ada..gitu lox…aku dapat menemanimu…” bahkan aku dapat memberi cahaya kilau padamu. Aku punya segala-galanya yang engkau inginkan. Bukankah berlian kalung ikan-ikan yang datang menuju kilau cahayaku adalah pemberianku?….Pakailah….kenakan bersama busa putih deburan ombakmu. Engkau akan menjadi seorang putri raja…”.

“….Tidak…tidak….bulan. Bukan itu yang kuinginkan. Aku tidak silau dengan harta pemberianmu.”  Bulan pun marah dan meredup :”Lalu mau lu, aape sih…”. Gue bingung baanget. Ini kagak, itu kagak….”.

Bulan, engkau hanya datang dikala malam. Tapi tidak datang dikala siang. Yang kuinginkan adalah seseorang yang dapat menemaniku dikala malam dan siang. Aku ingin dia seperti karang yang tegar bersama disisiku, bersama hari-hariku, bersama suka dukaku. Lihatlah, kadangkala dia tenggelam oleh pasir, kadangkala dia muncul. Kesetiaan dan kesabarannya itu yang membuat diriku tergugah. Walau sederhana, dia tegar menapaki hidup. Dia selalu menunggu aku di pesisir pantai di kala hempasanku lemah tak berdaya. Lihatlah, walau akar bakau dan kelapa menggerogoti tubuhnya hingga rusak tak berwajah, namun aku tetap mencintainya.

100_2897

 

 

Mari Berbagi Hidup…

 

Bulan diam sejenak…dan tersadar :” Baiklah cinta, kesetianmu menggugahku. Aku pun hanyalah seorang pria yang kesepian. Sendiri. Jauh dari belaian kasih sayang. Bolehkah aku menjadi sahabatmu dan cintamu pula?

 

Cinta menyapa : “….Baiklah, dengan senang hati kuterima. Bukankah kesedihan itu bisa dihibur oleh kebersamaan?Aku juga tidak ingin bersedih, berharap sesuatu yang tak pasti. Bukankah kebersamaan itu adalah cinta pula.

 

Bintang pun menyapa :”mari kita jalani hidup ini bersama, saling memberi dan menerima diantara kita apa adanya.” Apa lagi yang kita gapai kalau bukan kebahagiaan hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s