“ ZEDA ZAMBA “ Sebuah kota yang hilang (2)

Bersapa dengan Kera

Perjalanan ini, bagi saya, adalah yang pertama kali, semenjak mulai mendengar legenda tentang sebuah kota yang hilang. Perjalanan menyusuri lembah-lembah curam memakan waktu 2 jam, bercampur aduk dengan peluh dan keringat serta sejuta pertanyaan di benak yang ingin menyaksikan…..ada apa dibalik rahasia kota yang hilang itu ? 

Kota ini memang berada dipuncak pegunungan PUI, dengan elevasi 428 meter diatas Permukaan Air Laut dengan kemiringan lereng 450 , cukup membuat lutut dan kaki saya bergetar hebat karena ngilu. Sembari berjalan, terus kutatap sekeliling pemandangan agar kepala tidak terasa pusing…hingga tiba-tiba kurasa bahwa kami sedang diamati oleh segerombolan penghuni hutan. Ternyata, segerombolan kera hutan yang cukup ganas dari kejauhan. Dilihat dari ukurannya, memang seperti badan seorang manusia dewasa. Cukup mengerikan. Untung kami tidak diserang, karena posisi kami yang cukup jauh antara 2 bukit yang dipisahkan oleh lembah curam.

 

Menurut pengalaman masyarakat disana, seringkali tanaman mereka seperti ubi kayu, kelapa dan kedelai sering dimakan oleh gerombolan kera hutan itu. Bahkan kera-kera itu tidak takut dengan senapan angin sekalipun!!. “  …..wah…bisa buyar nih….aku lari kemana yaa…?” : gundahku. Perasaan yang sama dialami juga oleh Agus. Sambil berjalan saya pun berdoa semoga tidak terjadi apa-apa yang menghambat perjalanan kami.

 

Dengan medan yang cukup terjal, terpaksa kami harus merayap disisi bukit agar tidak terperosok ke lembah jurang. Memang posisi jalan setapak perjalanan kami menuju ke Zeda Zamba tepat berada sepanjang puncak bukit. Tepat pukul 15.00 Wita, tibalah kami di Puncak bukit. Sangat melelahkan, “  ….napas ini mau putus saja…”, keluhku. Bahkan posisi badan harus diatur sedemikian rupa, agar tidak jatuh ke lembah jurang. 

Gerda07

Gerda15

Gbr 1 : Tampak Gunung Iya di selatan.

Gbr 2 : …melepas lelah ditengah perjalanan. Pantai Mbu’u, Wolotopo, Ngalupolo

di kejauhan….

Pemandangan Menakjubkan

 

Sesampainya di puncak, Ooo…ternyata pemandangannya saaaangat indah. Alam ciptaan Tuhan memang benar-benar sempurna. Dilingkari pohon-pohon kelapa dan ilalang yang tertiup angin pegunungan benar-benar menghapus lelah dan penat disekujur tubuh. Kurasakan energi alam telah merasuki tubuhku, membawa kesegaran yang tiada duanya. Puncak ini persis berada diantara 2 gunung besar di kota Ende, Bagian depan saya dapat mengamati dengan jelas keindahan gunung Meja memisah 2 teluk, Ende dan Ipi. Sungguh Indah. Ada lagi Pulau Ende ditengah laut yang cukup menantang.

 

Saya jadi teringat dengan sejarah perang Dunia II, membayangkan posisi Pulau Ende ini seperti Pangkalan Pearl Harbour. Disisi lembah Gunung Meja bagian barat ada Kota Ende dan sebelah timur terdapat hamparan pantai dan laut memanjang sampai ke Ngalupolo (sebuah desa pesisir timur Kabupaten Ende). Ditengah tengah hamparan laut terdapat Pulau Koa (250 m2) yang begitu mungil seakan bersapa pada kami,” ….Ooiii…teman sedang apa kau diatas sana….”

ROUTe zeda zamba

 

Kota yang Hilang

 

  

Pada bagian belakang, menjulang ke angkasa langit, Gunung Iya, yang pernah meletus tahun 1969. Sambil memandang sekelilingnya, saya pun mengamati kawasan disekitar Puncak Zeda Zamba. Ternyata puncak ini seperti sebuah benteng. Hamparannya panjang, namun tidak begitu lebar. Hanya sekitar 200 x 4 m. Saya pun berpikir, “ …. ini koq seperti sebuah benteng perang, ya…seperti sebuah pertahanan kota”.

 

Tentang Kampung Itu

Sekelumit tanya itu akhirnya kuketahui juga dari cerita Eja Senen (seorang warga masyarakat Arubara) yang turut bersama perjalanan kami. Jauh dahulu kala ada sebuah kampung yang dinamakan Kampung Rodja”. Rodja berasal dari kata “ROOMJA” yang berarti Room = orang Roma, sedangkan Ja = berkulit terang. Dengan kata lain Orang Roma yang berkulit putih. Tinggalah disana warga kampung Rodja yang hidup damai dan tentram. Kampung ini memiliki struktur kehidupan adat yang cukup ketat yang dikuasai oleh seorang Mosa Laki Pu’u (Pemimpin tertinggi/Kepala Adat) yang bernama “Pedja Rodja”.

 

Sang pemimpin berdiam di Sa’o Pu’u (Rumah Induk) yang dikelilingi oleh Sa’o Pere (Rumah Pintu/Rumah-rumah Kecil) yang membentuk satu kesatuan masyarakat adat. Disisi lain mereka telah memiliki struktur pertahanan perang dan pemerintahan kota kecil. Dilihat dari topografinya, Kampung Rodja ini memang hanya berdiri sendiri dan berada diatas puncak bukit pegunungan PUI dan bagian selatan Ende. Sedangkan besar kemungkinan, kampung-kampung lain berada jauh disebelah timur dan utara Ende. Memang pada saat itu, kehidupan rimba masih ada, dimana masih terjadi perebutan kekuasaan antara suku-suku adat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s