“ ZEDA ZAMBA “ Sebuah kota yang hilang (1)

Pagi hari yang cerah

10 April 2005, Aku dan Agus, rekan sesama Gerakan Muda Pencinta Alam (GERDAPALA) ENDE bergegas mengisi 2 bungkus nasi kuning dan minuman aqua, sebuah tustel kamera dan catatan kecil dari guntingan kertas bekas. Hari itu, kami diundang oleh Jony, saudara tuaku, untuk menghadiri syukuran pelepasan sebuah perahu motor kecil TS 128 miliknya ke laut.

Ok…siaaaappp…semua perbekalan sudah beres, mengendarai sepeda motor RX Special ‘81, kami menuju ke Arubara, sebuah desa pesisir bagian selatan yang berjarak 4,5 km dari kota Ende dibawah kaki Gunung Meja. Kota Ende yang kita kenal sebagai kota sejarah, saksi bisu pembuangan Bung Karno sang Proklamator RI. Kota kecil tempat beliau merenungkan lahirnya Pancasila.

 

Jalan yang berbatu dengan jurang dan lembah Gunung Meja seakan menantang perjalanan ini, namun tidak mengurungkan niat hingga tiba dengan selamat disana. Kami pun disambut dengan sederhana dan ramah oleh keluarga dan masyarakat Arubara. Suasana hangat dan keceriaan dari masyarakat Arubara sambil melakukan prosesi adat pun dilalui tahap demi tahap, kemudian do’a syukuran, kemudian akhirnya inti acara dilanjutkan menuju pesisir pantai. Tiupan angin pantai seolah mengajak kami beranjak menuju ke pesisir pantai kampung.

 

TS 128

Disana telah menunggu dengan gagahnya, perahu motor kecil TS 128 yang baru selesai dicat dengan indah. Seakan-akan ingin mengatakan kepadaku, orang kota, bahwa kami orang laut juga punya jiwa seni. Joni, sang pemilik perahu ini sumringah. ………Alhamdulillah, ini hasil panen, keringat dari usaha rumput laut  selama 2 tahun……” : mengelap keringat di dahinya dengan nada puas. 

 

Bagi kita sih, orang kota nih, cukup dengan biaya 10 juta rupiah sudah bisa beli kontan sebuah perahu motor kecil, “….praktis saja kan ?” Tapi tidak bagi mereka, warga disana. Mengumpulkan uang sebanyak itu selama 2 tahun, bukan sesuatu yang mudah. Mereka harus rela berangkat pagi ke laut, menyiapkan rumpon, mengikat bibit, sampai harus bergantian jaga dini hari di pesisir pantai menahan dingin yang teramat sangat. Walau lelah, tapi batin mereka puas.……..Inilah hasil kami,,,,,”.

 

Gerda13

Gerda16

 

Upacara “mendorong” perahu. Keceriaan memang milik mereka….

 

Dalam Benakku: ….. ternyata dibalik kesederhanaan itu, masih ada kebahagiaan yang bisa dipetik…”. Ketermenungan dan keceriaan berlangsung hingga pukul 13.00 WITA. Setelah beristirahat sejenak, tibalah rencana inti ke pegunungan PUI (Tempat dimana kampung itu dan Zeda Zamba) berada. Saya dan Agus pun bergegas. Oooo…ternyata kami juga bersama Bapak-bapak tokoh masyarakat dan adik-adik pemuda yang kepengen melihat Zeda Zamba. Tanpa menunggu lagi kami pun segera beranjak bersama-sama untuk mulai berangkat.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s