Selamat Datang Ibu MEGAWATI (hari kedua)

Suasana riuh tepuk tangan massa banteng merah mengiringi pidato Ibu Megawati Soekarnoputri, di Lapangan PERSE. MERDEKA…!!!.MERDEKA…!!!…,suara itu menggema dari tribun selatan. Hari itu, Jumat 01 Juni 2007, pukul 10.00 WITA, upacara peringatan Hari Lahirnya Pancasila dirayakan. Berduyun-duyun penonton datang seantero Kabupaten Ende. Malah, tidak hanya dari kota, di desa pun berbondong-bondong tidak mau ketinggalan.

“….Untuk apa sih? koq jadi banyak begini orang-orang yang datang”, aku bertanya pada seorang ibu didekatku. “  ….kami mau lihat dari dekat, ibu Megawati “, katanya ibu itu pongah dengan Pede-nya sambil mengunyah sirih pinang yang sengajanya dibawa dari rumah. Memang, masyarakat datang membludak, tumpah ruah disekitar areal. Bahkan Jalan Soekarno sesak oleh pengunjung. Nampaknya kharisma Ibu Mega dimata masyarakat Ende, baik sebagai Ibu Negara maupun sebagai anak dari Proklamator RI Bung Karno masih sangat melekat.

Ende, Ibu Mega dan Bung Karno

Ende, tentunya masih melekat di hati Ibu Mega, mengapa ? sebuah kota kenangan bagi sang Ayah yang pernah diceritakan pada anaknya semasa kecil. “…ENDEH, sebuah kampung nelayan telah dipilih sebagai pendjara terbuka untukku jang ditentukan oleh Gubernur Djendral sebagai tempat dimana aku akan menghabiskan sisa umurku……”, kenang Bung Karno.

Diorama01

Diorama di KM Van Riebeeck, menuju tempat pengasingan Ende Flores…..1934–1938.

Memang beliau seorang Patriot. Diungsikan jauh dari dunianya, sahabat2nya, perjuangannya tak mampu menyurutkan niat beliau untuk terus maju. “ aku bagaikan elang, yang sayapnya patah….”, keluh beliau.

Namun, bersama nelayan-nelayan dan petani kopra di Ende yang bersahajalah, pada masa itu, Bung Karno menemukan kembali semangatnya. Ia kemudian membuat perkumpulan drama perjuangan yang dikenal dengan “TONEEL KELIMUTU”. Hampir semua persiapan acara, mulai dari latihan adegan, panggung dan karcis selalu beliau tangani dengan tekun. 

Begitulah secuil kisah sejarah dari Bung Karno, sejak pertama kali menginjakkan kakinya di pelabuhan Ende, 14 Januari 1934 sampai selesai masa pembuangannya   

DSC00374

  Kunjungan Ibu Mega ke Situs Pohon “Pancasila”

Berfoto bersama gadis-gadis penyanyi tradisional dari Ende.

Ibu Pulang….??

Siang itu (hari kedua), matahari memang terasa menyengat. Tepuk sorai masyarakat terdengar menggema. Setelah melalui beberapa acara, akhirnya Ibu Mega pamitan untuk pulang. Bersama rombongan, beliau langsung menuju bandara pukul 10.00 WITA.

DSC00377

Ibu Mega dan tuan rumah.

Tampak Sebelah kanan Bapak Bupati Ende, Drs. Paulinus Domi dan Bapak Ir. Frans Lebu Raya (kiri).

 DSC00322

Ibu Mega bercakap-cakap dengan pimpinan kabupaten serta

pengelola museum Tenun Ikat, Ali Abubekar Pa’e (memakai ikat kepala).

Selamat Jalan IBU, sampai ketemu dilain waktu………

 

2 thoughts on “Selamat Datang Ibu MEGAWATI (hari kedua)

  1. Pieter berkata:

    please email me the original photo of the Ibu Megawati under the phon Sukun (atau ‘pohon Pancasila’). Trims. Pieter.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s