Tambah GELAR, tambah NGANGGUR

SETIAP menjelang tahun ajaran baru, dapat kita saksikan suasana orang tua bersama anaknya berebut untuk mendapatkan sekolah favorit. Fenomena ini jelas menunjukkan betapa masyarakat berusaha keras agar anaknya bisa sekolah. Pertanyaannya kini, mengapa masyarakat mempuyai harapan begitu besar terhadap sekolah?

Selama ini hampir semua orang berpendapat, sekolah diharapkan mampu mengubah manusia, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak berbudaya menjadi berbudaya. Dengan kata lain, melalui sekolah, setiap siswa nantinya diharapkan menjadi manusia yang siap, cakap, mumpuni, dan sukses dalam menghadapi masa depan.
Harapan yang begitu besar, bahwa sekolah mampu mengubah manusia dari “biasa” menjadi “luar biasa”, sudah menjadi kepercayaan masyarakat. Bahkan, ada pendapat, makin tinggi seorang menggali ilmu di sekolah bermutu, seolah-olah ada jaminan, hidupnya kelak akan sukses dan mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji tinggi.

Sebuah Fakta

04

Ekspektasi terhadap dunia pendidikan di atas tentu bertolak belakang dengan realita pengangguran yang ada di negara kita. Saat ini, sebagaimana data Bappenas, jumlah pengangguran terbuka mencapai 9,13 juta (9,06 persen). Dari jumlah total pengangguran tadi, sejumlah 5,5 persen adalah kaum intelektual yang pernah mengenyam pendidikan di universitas, diploma atau akademi. Artinya, terdapat jutaan intelektual dan kaum terdidik yang menjadi pengangguran terbuka. Fenomena ini tentu jauh dari harapan para orang tua.

08

Ket. : Berdasarkan Grafik ini, ternyata jumlah pengangguran pada anak yang mengenyam pendidikan SMTA Umum.  Sekarang, mari kita bandingkan point 1 dan 10, waah…ternyata jumlah pengangguran tamatan universitas lebih banyak dari yang belum sekolah.  Berarti….ngapain kita bangun universitas…toh ternyata yang tidak sekolah pun masih bisa cari kerja   

Tidak hanya itu, Bappenas memperkirakan dalam lima tahun ke depan jumlah pengangguran akan mengalami lonjakan tinggi karena tidak tersedianya lapangan kerja. Tahun 2005 angkatan kerja akan mencapai 107,08 juta orang, sedangkan jumlah orang yang bekerja 95,89 juta orang dan 11,19 juta orang (10,45 persen dari angkatan kerja) akan menjadi pengangguran terbuka, dan seiring dengan itu jumlah pengangguran intelektual juga merangkak naik. Kisaran ini tentunya jika pertumbuhan ekonomi mencapai 5,03 persen. Peningkatan angka pengangguran terbuka ini diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun 2006.

Data-data tersebut menunjukkan keberadaan hubungan positif (searah), yang tentunya tidak diinginkan, antara tingkat pengangguran dan tingkat pendidikan. Seolah-olah semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin besar kemungkinan untuk menganggur di negeri ini. Padahal, menganggur adalah salah satu indikator masa depan yang tidak sukses.

……………………………………………………………………………………………………………..

Sumber Pustaka :
1. Pendidikan dan Persoalan Pengangguran-Ahmad Zaenal Fanani, staf Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LKPSM) NU DIY

2. http://www.depnakertrans.go.id

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s