EMBUN yang hilang….(Malam Pertama)

Ego-ku

Sambil memejamkan mata dan terpaku seperti seonggok patung, Farhan diam membisu tak bersuara. Sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya. Entah karena mulutnya terkunci ataukah otaknya sudah tidak mampu berfikir lagi. Hanya jari-jemari yang masih kesana-kesini permainkan sebatang lidi yang diambil dari gagang sapu halaman rumahnya, masih tetap dipegangnya erat-erat.

Hari itu….Farhan ditinggal pergi…..embun yang selama ini menetes hati, sejuk dikala dahaga, kilau dikala pagi, telah beranjak dari dedaunan singsana istananya. Hmmm….dia menarik napas panjang. Tidak ada yang bisa diperbuat, kesalahan yang fatal karena ego TELAH MERUNTUHKAN SEGALANYA.

…ahh…kamu jangan pesimis begitu, Farhan…Kamu harus memperbaiki dirimu dan mencoba memaafkannya” : ujar kata hatinya. “ ….tidak…sekali lagi, TIDAAK!!…, saya adalah laki-laki. Saya punya harga diri !!!..” : tepis sang iblis. Pergualatan dua penghuni batinnya seakan tidak pernah berhenti, hingga dia-pun segera membuka HP genggam kamera-nya, mengutak-atik tuts angka, berharap sang embun menelponnya kembali. Kakinya dijulurkan kedepan, membuka gambar-gambar di HP, menyaksikan drama ketika dia dan embun berfoto bersama di Pantai itu, makan bakso dan es campur, dengan segala episode kebahagiaan yang pernah mereka alami kemarin dan sebelumnya.

…Ohh..embun, begitu tega kau meninggalkanku..” ,sambil bangun dan berjalan ke peraduan tuk sekedar menyapa dua bantal kasurnya. “ Aku tak sanggup tidur tanpa kamu disisiku, sayang. “…secepat itukah? ketika aku baru mulai menapaki tangga bahtera kapal kita ?. “…..tiang Layar telah kutegakkan, tapi mengapa layarnya tidak kita bentang bersama ?”: Guman dia.

“…Embun tak tahan lagi…!! TIDAAK untuk yang kesekian kali” Ingat si Farhan akan kata-kata Embun malam kemarin.”…kakak terlalu ego. Kakak tidak pernah memikirkan kondisi Embun, dikala Embun butuh kasih sayang Kakak

“..Embun sudah mencoba untuk mengerti kakak, tetapi kakak hanya mementingkan diri sendiri. Sibuk dengan segala rutinitas pekerjaan, teman-teman dan segala macam tetek bengek kebanggaan kakak : tangis Embun. …kakak, kita tidak pantas untuk hidup bersama…..”, desahan Embun begitu hebatnya terngiang ditelinga Farhan, mengguncang segala semangat kelaki-lakiaannya, merobek-robek kulit luarnya seperti terkena pisau bara api.

“Hmmmm….Embun…maafkan aku karena Ego-ku”,: Lirih Farhan mencoba tuk menghibur kelopak matanya yang sudah mulai redup. Malam ini, Farhan mulai tertidur pulas. Meninggalkan pekerjaan malamnya, berharap bermimpi…..mencari EMBUN……yang hilang.

 

Tags:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s