EMBUN yang hilang….(Malam Kedua)

Tumben

Tanpa terasa, siang ini Farhan telah melalui 1/2 hari tanpa Embun disisinya. Hari ini, dia harus lembur sampai sore untuk mengerjakan tugas kantor. Kira-kira sampai 16.30 sore. Begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Maklumlah, dia ditugasi banyak kegiatan. Selain kegiatan tim-nya, juga kegiatan yang harus ia selesaikan sendiri.

Kemarin memang bisa ia selesaikan, namun berhubung ia sering sakit perut, terpaksa ia “dirumahkan” oleh absen kantornya, naah…pada saat sembuh itulah, teman-teman kerjaannya menunggu. “….halo…apa kabar?ketepaan nih. Sudah sembuh yah?”, sambut si daniel sahabatnya.” …..baru masuk, pake tanya-tanya lagi, aku khan ijin sakit “,timpal Farhan seketika. “….paleng-paleng, sakit perut…!!, ituuuu melulu, nggak ada sakit yang lebih keren ? jantung keq, kanker keq..”,nyahut si Badu. ..eeeeh…gini-gini, biar perut mules, tapi masih awet mudaaaa ”,sergap Farhan, berusaha mempertahankan diri dari serangan bertubi-tubi. Teman-temannya pun tertawa terpingkal-pingkal tanda setuuuuju banget.

Begitulah Farhan, walaupun bicaranya serius, tapi mereka selalu menganggap itu guyonan. “ ….Han…Farhan…,mana nggak lucu…muke luuu aja ude jauh, apalagi batin lu…ha…ha…ha..ha..”, seabrek seluruh ruangan spontan tertawa. Hingga sore itu mereka selesaikan pekerjaannya, pulang ke rumah masing-masing. Dari kantor, Farhan pun berlalu santai dengan sepeda motor butut RXS tahun 81, sambil menikmati lalu-lalang orang di kiri-kanan jalan.  

Sesaat sebelum sampai di ujung perempatan, dia mengguman,”…..jalan lurus atau belok kiri ya?”. Bingung dia mengambil keputusan. Lurus berarti dia harus pulang rumah, belok kiri berarti harus kerumah mertuanya. Tempat si Embun, kekasihnya itu “meng-evakuasi”. “  jangaaaan…..ngapain kamu kesana, Han. Bukankah dia sudah tinggalin kamu ?!!”, si setan interupsi. “..kasihan…Haaaan. kamu kan harus antar gajian bulan ini, bukankah berita bagus untuk si Embun ? Siapa tahu pelan-pelan kamu bisa luluhkan hatinya”,ajakan baik si malaikat. 

Dia pun akhirnya belok kiri dengan penuh semangat positif, pergi kerumah Embun. Tak lupa, ditengah perjalanan dia mampir sebentar untuk beli sebuah buku cerpen dan sebatang coklat conello dingin .”..bukunya untuk aku, coklatnya untuk dia..”, sembari tersenyum dan menstarter motornya kerumah kekasih.

Sesampai disana. rumah cukup tenang. Tidak ada tanda-tanda ada orang. “..sore….om..tante.”,ucapan pembuka yang manis. “…Yaaa, Farhan…ya..? mari masuk nak ”, sambut sang bapak. “slamat,slumun, slamet…lolos langkah pertama”, bersyukur dia. “. Embun, ini ada kakakmu. Silahkan duduk nak. Bapak panggil sebentar ya”, persilahkan si Bapak, Farhan ngucapin terimaksih.

..eh kakak”,sambut Embun dingin dan langsung duduk. “ada perlu apa, kak?tumben sore-sore?”,pelan si Embun menyapa. “ liat kamu aja,maklum…kangen”,singkat padat dan jelas.”tumben, kakak kamgen, biasanya sibuk”, Tukas Embun. Disitulah pertahanan terakhir si Farhan. Tanpa basa-basi lagi mereka pun diam seribu bahasa. Kamus bahasa cinta yang dipersiapkan Farhan dijalanan, hilang dalam sekejap hanya dengan kata-kata “TUMBEN”.

Tidak ada lagi hal yang dibicarakan. Yang ada hanya suara kendaraan lalu-lalang yang menyapa 2 patung hidup yang berada di teras itu. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya. Seakan benar-benar digembok. Hingga malam itu, tak satupun perubahan berarti buat Farhan sampai bokongnya sudah mulai kesemutan.

Diapun pamit pulang tanpa ada hasil sama sekali. “Embun, pulanglah”, 2 kata yang tak pernah bisa diucapkan Farhan untuk mengajak sang kekasih pulang kerumah mereka. Sesampainya dirumah, si Farhan langsung terjatuh, rebahan dikamar tidurnya, dengan tidak lagi membuka baju kantornya.

…apa’an tuh yang basah”, geliat Farhan kaget melihat saku celananya basah. Merogoh tangan kanan di sakunya, penasaran apa yang basah didalam. Ehhhhh…ternyata coklat conello dingin tadi sudah mencair. Lupa dikasi’in ke Embun. Yaaa…ampun dah. Buku cerpen kecil yang ingin dibacanya ternyata juga kusut dan robek, terkena coklat tadi.  Farhan..farhan…TUMBEN…lu sial begini.   

    

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s