Hukum Gerak

Ooyi lagi duduk

Ooyi dan Lautnya

Untuk kesekian kalinya Ooyi duduk di pinggir pantai, disebuah pelataran pasir pantai wisata di kota ende, sambil memandang laut lepas. Hari ini, matahari cukup berani bersilau lidah cahayanya. Sementara awan-awan tipis tenang bergantungan di plafond langit.

Anak-anak asyik bergumul di pasir, ada yang bermain bola, ada yang sekedar kejar-kejaran dan ada yang betah duduk sambil membuat pasir benteng. Kulihat jauh kedepan sinar matahari membingkai diatas permukaan laut, silau berpendar. Onggok-onggok hitam bergerak kesana-kesini sambil asyik mencak-mencak dengan ombak. Siapa lagi kalau bukan anak-anak itu yang kulihat setiap sorenya bermain di pantai ini.

Pasang laut memang agak turun, karena di kejauhan dermaga ende kelihatan menjulang dengan kaki-kakinya yang sudah mulai rapuh termakan karang. Ooo….seorang anak kecil 3 tahun dipapah ibunya berjalan-jalan diatas pasir, menuju ke riak kecil buih gulungan ombak didepanku…asyik sekali…

Sore ini, semua yang kulihat sepertinya tidak ada perubahan, seperti sore-sore kemarin. Semuanya ditempat masing-masing dan berjalan apa adanya. Namun ada satu yang menarik, kalau dicermati bahwa “benda-benda”

yang kulihat itu semuanya bergerakFoto(017) dengan irama harmonis.

Kuncinya pada keharmonisan. Segala sesuatu memang dibangun dari kasih sayang. Namun tentunya dapat langgeng karena sebuah keharmonisan. Tentang sesuatu yang kulihat didepan kala sore itu, sampai tentang alam semesta yang tidak bisa kugapai….semuanya berjalan dengan “keharmonisan”.

Bencana Vs Keharmonisan

Law Motion

Sejauh itukah Sir Issac Newton berfikir ? bukankah ia hanya menangkap fenomena “gerak”. Bagaimana dengan fotosintetis ? ekosistem ? habitat ? bahkan “bencana alam ?” seperti gunung meletus, banjir dll. Kalau kita simak, memang ada kaitannya dengan Keharmonisan. Mari kita bedah satu persatu….Hukum gerak lebih universal untuk diartikan :“ ….aturan tentang segala sesuatu yang bergerak….” maybe. Kalau harmonis lebih pada “…Hukum Gerak Positif…”.

Lho…kalau bencana alam…apakah itu dikatakan harmonis ? Seperti luapan lumpur di porong, gempa bumi di beberapa pulau?. Itukah yang disebut “bencana” dari kacamata manusia?. Bisa ya…bisa tidak..tergantung kita memahaminya. Kalau saya sih, positif saja…coba lihat eksplorasi dan pengeboran tambang dimana-mana.

Ada banyak sekali lubang-lubang yang telah dibuat manusia didalam bumi. Bumi yang sebenarnya adem ayem saja, terpaksa harus memberikan “perilaku” harmonisnya selama 100 s/d 150 tahun guna melakukan “penyesuaian” kulit/kerak-nya akibat ulah manusia tadi. Demikian pula gunung atau air yang terus melakukan upaya untuk menjaga keseimbangannya. 

Memang kita cukup “ego” untuk mengartikan bencana yaitu segala sesuatu yang buruk dimata kita. Padahal Hukum Gerak Alam menuntut makluk lain di semesta raya ini tetap menjaga keseimbangannya. Itulah yang disebut “Harmonisasi Alam”.

Saya berfikir, Sang Pencipta tidak akan pernah membuat makhluk-Nya sengsara dengan bencana. Hanya saja “Hukum Gerak”  yang diciptakan Sang Pencipta, tidak di “harmonisasi” kan lagi oleh manusia yang katanya sebagai “khalifah/penjaga” Hukum Tuhan didunia.   

7 thoughts on “Hukum Gerak

  1. ooyi berkata:

    Benar kata abang2, kapan kita ngerti alam ? bagaimana kita memahami bahwa “pemberontakan” alam adalah hak mereka juga ?

  2. telmark berkata:

    kalau manusianya tdk juga sadar2 akan pentingnya keseimbangan alam raya, maka bencana alam akan terus berdatangan di masa datang. sebuah lahan, bekas sebuah pertambangan, biasanya memang menjadi lahan yg mati dan tak bisa diperbaiki.
    salam.

  3. Ping-balik: Telmark.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s