“PLAYBOY” INDONESIA diadili….

Sudah jatuh ketimpa tangga, ditendes lagi ama palu pengadilan.

Demikianlah puisi sebaris untuk menggambarkan kesialan dialami Mas EA. Direktur majalah “syuuur-XXX-gadis indonesia”. Sudah dibredel….baru-baru ini pula pengadilan mulai menggelar sidang kasus “Playboy”-nya Indonesia ini diatas meja hijau. Kalau ditelusuri sepintas bahwa, memang perjalanan media ini cukup melelahkan. Beberapa tempat yang menjadi “agen” majalah ini sempat “dihakimi” massa. Belum lagi, kritikan-kritikan pedas datang silih berganti menghantui batin EA.

Mau buka usaha….jadi hancur. Memang semua usaha tidak selamanya berhasil. Apalagi usaha ini bergerak di bidang “hasrat” alias “PT. HAWA NAPSU”. Jelas suara masyarakat ada disitu. Soalnya persoalan yang satu ini ceritenye adalah privasi individu secara biologi seksual yang dibawa opininya ke ruang publik. Jadilah semua pada bersuara. Ada yang marah (biasanya ulama), ada yang biasa saja (masyarakat awam) dan ada yang setujuuu bang (dari kalangan bebas). Ada yang setuju…tapi diam-diam aja deh (naahh…kalo ini dari primus=pria muka selingkuh)🙂 .

Image Vs Imagination

Seseorang pernah datang, katanya “important non target – but – just imagination”. Kalau tidak keliru, maksudnya begini : “Nyang penting bukan target – tetapi – hanya imajinasi”sedangkan kata “Non” tidak hanya diartikan “bukanlah” tetapi kita lebih suka kata ini dipakai untuk menggambarkan seseorang wanita. “Non Geulis” misalnya. Pendapat ini yang dialami tersangka EA dan kalangan bebas yang setuju dengan penerbitan majalah ini. Kalau dari kacamata “seni” menggambarkan bentuk tubuh menjadi nilai artistik untuk dipertontonkan. Kata EA : “Bukan jadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan dan dipertontonkan. Lagian urusan pribadi, koq. Suka-suka gua dong…!!!”

Kata “Image” dan “imagination” tentang “gambar” ataupun “khayalan” tentang diri sebuah objek baik itu individu ataupun pemandangan lainnya adalah hak setiap orang untuk menunjukan jati dirinya. Apakah nantinya terformat dalam suasana “my self-him self-her self-ourselves” tidak jadi suatu masalah. Namun ketika dibawa ke suasana “target” atau “sasaran” akan menimbulkan problem.

Problem her-self dari seorang AL, seorang artist yang coba diangkat sasarannya oleh EA ini berkembang menjadi “isyu norma” masyarakat. Karena, sekali lagi…sudah dibawa ke ruang publik. Siapa yang bertanggung jawab dengan perilaku generasi baru nantinya ?? atau seberapa besarkah pengaruhnya terhadap ruang didik anak-anak. Maksudnya “wilayah” bermain anak-anak “dieksploitasi” lagi setelah banyaknya muncul bentuk-bentuk “penjajahan” terhadap “ruang” anak-anak dengan munculnya berbagai media yang seharusnya belum pantas bagi mereka untuk dipertontonkan.

Imagination Vs Hukum

Sekarang…tinggal kita menunggu ketokan palu. Apakah EA dihukum ataukah dibebaskan. EA adalah figur kecil, masih tingkatan PLAYBOY kelas “Jangkrik”. yang akhirnya jadi besar karena “imagination”-nya. Sekali lagi nasib EA akan ditentukan publik lewat pengadilan. Freedom for “PLAYBOY” Indonesia ataukah jail for “PLAYBOY” Indonesia”

Posted in: Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s