…. AMANAT BUNG KARNO

Secuil kisah nyata dibalik Jatuhnya Bendera Merah Putih
Pada perayaan HUT Proklamasi RI Ke-60
di Kabupaten Ende, Kota Sejarah Sang Proklamator

…..

Terlebih dahulu, sebagai orang yang beriman patut mengucapkan Puji Syukur ke-Hadirat ALLAH SWT atas segala limpahan rahmat-Nya kepada kita, Bangsa Indonesia atas terselenggaranya HUT Proklamasi RI ke – 60. Kita berdo’a, semoga melangkah kedepan senantiasa di Ridhoi oleh Yang Maha Kuasa. Amin.
Ucapan terimakasih kedua, saya tujukan pada Bapak Ir. Soekarno (Bung Karno), pejuang, proklamator kemerdekaan dan presiden RI pertama, atas cita-cita luhur dan pengabdian selama hidupnya untuk kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Latar belakang saya menulis, karena pada hari ini ada sesuatu yang tergugah untuk datang ke tempat MUSEUM BUNG KARNO, sekedar ingin melihat dan membaca sejarah beliau sewaktu berada di Ende selama masa pembuangannya.

Kisah nyata itu sebagai berikut…..

Selasa, 16 Agustus 2005
MUSEUM BUNG KARNO – Ende

Seribu pertanyaan dibalik benak saya, kenapa tiba-tiba saya harus ada disini ? seumur-umur aku hanya menyempatkan 3 kali ke MUSEUM BUNG KARNO, itupun tidak pada tanggal 16 Agustus dan diluar rencana.

………Saya pun menurut kata hati, berangkat, tiba pukul 10.30 WITA dan disambut dengan baik oleh Syafrudin Pua Ita (anak muda yang menjaga MUSEUM beliau). Obrolan antara kami dilanjutkan sambil melihat-lihat seputar benda, foto dan peristiwa-peristiwa beliau.

Tidak berlangsung lama, saya masuk ke Ruang Kerja beliau dan menyempatkan duduk di meja tulisnya. Saya diberi bacaan tentang 7 naskah dari 12 naskah drama yang pernah dipentaskan oleh Bung Karno bersama sahabat-sahabatnya mendirikan Toneel Club Kelimutu. Diantara naskah itu adalah : Rendo, Rahasia Kelimutu, Jula Gubi, KoetKoetbi, Anak Haram Jadah, Aero-Dynamiet dan Dr. Sjaitan. Kata Udin (nama panggilan Syafrudin, penjaga museum) bahwa naskah tersebut disumbangkan kembali dari Bapak Yusuf Ibrahim SMHk yang merupakan anak dari Bapak Ibrahima Umarsjah, sahabat Bung Karno sewaktu di Toneel Club Kelimutu. Selain Bapak Ibrahima, sahabat dan kenalan lainnya a.l. : Bapak Darham, Bapak Jae Bara, , Bapak Hamid Dhepi, Ibu Mahani Sarimin, Bapak Ali Pambe, Bapak Pater G. Huitjink, Bapak Pater Bouma, Bapak Pater Adrian Mommersteeg Bapak Ruslan Uttuh/Iros, Bapak Azis Pelindi, Bapak Jae Mohdar, Ibu Lano, Bapak Waru Sewoedi, Bapak Haji Abdullah Ambuwaru, Baba Sian Tik, Bapak Bruder Lambert dan Bruder Cherubim, Bapak M. Fernandez serta bruder dan pastor Serikat Sabda Allah (SVD), Bapak-Bapak di Pengurus Percetakan Arnoldus, dll-nya yang tidak dapat saya sebutkan semuanya disini. Semoga amal dan jasa mereka membantu perjuangan Bung Karno untuk kemerdekaan mendapat tempat yang terbaik disisi Allah SWT. Amin

Disaat membaca dan mulai menulis satu bait pertama, azan dhuhur berkumandang untuk shalat Dhuhur. “……Ruang Semedhi (letaknya di ruang belakang rumah museum), …..sepertinya tempat yang pas dan cocok untuk shalat….”. pikirku. Saya pun beranjak menuju ke sumur belakang rumah museum untuk berwudhu sambil menyiapkan diri untuk shalat.

Shalat pun dilaksanakan. Memasuki rakaat kedua diwaktu bangun sujud :”Allaaaahu Akbar …… “; tiba-tiba badan terasa merinding!!!. Saya merasakan sesuatu yang datang demikian hebatnya. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ada suasana ghaib yang saya rasakan. “….pertanda apakah ini…??” Dalam benak saya pada waktu itu.
Seribu tanya muncul dan tak terjawab……bingung……was-was…..takut…..!!! ….
Kejadian itu berlalu saja sampai akhirnya selesai shalat dan kembali membaca di ruang kerja beliau.
Pukul : 12.45 WITA…..!!!

Di Ruang Kerja……..
..…..satu peristiwa pun muncul dan tertangkap dalam alam sadar saya….tiba-tiba saya diperintah untuk menoleh sesaat pada amanat beliau (Bung Karno) yang terpampang di sisi dinding sebelah kiri ruang kerja. Masyarakat Indonesia tentu tahu lewat wacana sejarah….ya….pesan beliau pada HUT RI ke VI tentang….zonder kerja…kristalisasi keringat… dllnya.

Namun…suara ghaib itu muncul kembali dan perintahkan saya untuk menulis, pesannya sebagai berikut :

Wahai Bangsaku…..jiwa ragaku……
Kecintaanku yang teramat dalam padamu, tidak akan memadamkan kobaran api – ku untuk tetap memperjuangkanmu….

Wahai Bangsaku….
Sebenarnya buah kristalisasi keringat itu adalah kemakmuran. Kemakmuran yang diperoleh dari kemerdekaan.
Kristalisasi Keringat Kemerdekaan Kemakmuran.
…….bahwa hanya dengan kristalisasi keringat kita dapat Kemakmuran. Kemerdekaan jiwa raga dalam makna dan arti yang seluas-luasnya.
Setelah merdeka baru dikatakan makmur…..
Setelah makmur baru dikatakan merdeka…..

Wahai Bangsaku…..
60 Tahun sudah masa ini.. Waktu yang tepat untuk introspeksi diri.
melihat kebelakang tentang perjuangan yang dijalani..
Lalu …. Dimana muara berintrospeksi ?
……. Sejarah…….
Disitu kita menemukan diri dan menjadi pondasi untuk kita bangun kembali bangsa kearah yang lebih baik.

Sejarah adalah identitas. History is Identity,
The name for yourself, myself and ourself….

Bahwa perjuangan yang dijalani itu tidak boleh putus.
Dia harus dimulai oleh sejarah!!!, memakai sejarah !!! dan diakhiri oleh sejarah!!!.
Bilamana ingin generasi berjuang, sama seperti cita-cita luhur aku dan pendahulu, maka hal pertama adalah : mereka harus kembali mengenal sejarah.

Demikianlah pesan itu disampaikan dengan lugas. …..Saya tersadar….apakah ini buah pikir saya? Yang punya segala keterbatasan? Pesan yang punya arti luar biasa, bahkan tidak dipahami oleh saya pribadi yang menulis.
Setelah mengkaji isi pesan…..memaknai….saya sadar bahwa ada pemikiran lain yang terlibat dan menjadi pemeran utama. Apalagi di beberapa kalimat terakhir….Aku dan pendahulu…..Atas nama Bangsa Indonesia…dsb-ya semakin menguatkan perasaan saya bahwa pesan ini benar-benar bukan berasal dari saya…..adakah sesuatu dibalik semua ini………??!!

Saat itu juga saya beranjak dan meminta kepada Penjaga Museum untuk pamit…..

Pukul : 20.30 WITA
Kejadian siang tadi membekas dalam ingatan…..namun : “…ya…biasa-biasa sajalah….namanya juga berkunjung….sama seperti yang lain…” kilah saya lagi.
Malam itu saya habiskan waktu di rumah…..

Pukul : 21.00 WITA
Tiba-tiba datanglah lagi sesuatu….suara hati memerintahkan saya untuk berangkat lagi ke MUSEUM….aneh….bingung…..takut…semuanya bercampur aduk. “…malam-malam begini kesana…??!! Kata saya melawan suara itu, lagian takut juga.
“…Kamu harus BERANGKAT !!! …..sekarang juga…..!!!”. Saya berusaha bandel….namun dipaksa juga…..dan akhirnya saya pun berangkat dengan perasaan yang bercampur aduk….
Akhirnya terlebih dahulu menjemput Udin ( Penjaga Museum ) dan meminta ijin agar bisa kesana.
Alhamdulillah…..permintaan saya diijinkan. Kami pun harus berangkat berdua. Karena kunci rumah MUSEUM dipegang oleh Udin.

Pukul : 21.35 WITA
Kami tiba. Tidak ada yang saya perbuat….maklumlah…datang dalam keadaan bingung…..
akhirnya saya pun isi waktu dengan habiskan bacaan naskah drama beliau yang tadinya masih tersisa 2 naskah yang belum terbaca. Saya kembali menuju ke Ruang Kerja beliau dan duduk di kursi dekat sisi tembok bagian utara. Kadangkala sambil beranjak dan keliling-keliling melihat foto di sekitar ruang kerja beliau.

Keinginan untuk menghabiskan waktu sampai pagi memang ada. Namun saya merasa kasihan dengan Udin yang susah payah menemani….dan berencana untuk pamit pulang.

Pukul : 23.00 WITA
……Suara itu muncul kembali : ” Kamu harus berada di ruang semedhi tepat pukul 24.00….karena itulah waktu yang sesuai untuk merenungkan tentang perjuangan…..”.
…saya pun kaget dan langsung beranjak menuju ke Udin….perasaan takut semakin besar. Namun keinginan itu disampaikan juga ke Udin.
Saya langsung menuju ke sumur dan wudhu. Setelah itu menuju ke Ruang semedhi beliau. Sewaktu membuka pintu….Udin sempat nyeletuk : “….abang…..yakin mau berada didalam sendirian…?”. …Ya…” sambil menjawab dengan pongah. Tapi seribu pertanyaan sudah bercampur aduk. “….Udin koq sampai tanya begini…maksudnya apa..? “ pikir saya.
Saya pun memandang bengong Udin yang telah kembali ke Ruangan depan untuk membaca kembali tabloid Intisari yang dibawanya dari rumah.

Saya pun mengucapkan salam dan masuk kedalam ruangan semedhi. Kebetulan saya belum sholat Isya jadi akhirnya pembukaannya dengan melakukan sholat 4 rakaat…..
“…..menunggu waktu….sebaiknya zikir” hemat saya, sambil mengisi waktu sehabis sholat. Akhirnya zikir pun saya lanjutkan tanpa lagi tahu jam berapa sekarang pada saat itu. Biasanya kalau sholat, saya letakkan jam tangan di saku celana.

Pertengahan zikir…..saya menangis….menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba merinding bulu kuduk “….apakah terjadi sesuatu.??!! “ saya semakin was-was.
“Jangan-jangan ada sesuatu ini…..!!!!” sambil menoleh kekiri dan kekanan.
Datanglah suara itu. Demikian halusnya…sampai-sampai hanya bisa terbaca oleh perasaan saya yang lagi sedang berkecamuk. Namun suara itu terdengar haluuuus dan berkata :

“…..Bangsa ini sudah lupa diri…”
“…..Mereka sudah lupa aku…..aku sangat kecewa….”
“…..Tidak mereka tahu…bahwa seluruh hidupku habis…..hanya untuk kemerdekaan…..yang sekarang sedang mereka nikmati…..”.
“…..Mereka lupa berterimakasih akan cita-cita luhur bangsa ini……aku sekarang tidak merasa ada semangat kemerdekaan……”
“……Kamu ingat…?? sekarang pergantian hari. Waktu dimana kita proklamirkan ini MERDEKA. Tapi lihat….aku tidak merasa apa-apa yang diperbuat generasi. Hambar ini bangsa. Kalian kerja dengan rutinitas belaka…tapi kalian tidak maknai dan amalkan…..”.
“…..mana ada orang di rumah ini…..!!!” ……INGAT BUNG…..kamu harus kesini….bendera itu harus disini. Disini Sejarah…..!!!!”

Saya pun kaget…..dan tersadar. Rasanya napas ini mau sesak saja. Sambil mengusapkan kedua kelopak mata…..agar tidak mengingat yang bukan-bukan. Saya langsung mengambil jam tangan yang berada di saku celana sebelah kanan. “….Jam berapa yaa??” guman saya. “……MASYA ALLAH…..JAM 12 TEPAT !!!” saya luar biasa kagetnya. Saya ingat kembali suara tadi yang mengatakan bahwa …..sekarang pergantian hari……
Saya pun bangun dan langsung shalat sunat HAJAT 2 raka’at untuk mendo’akan keselamatan beliau,keluarga dan sahabat pejuang dahulu. Tidak lupa pula mendo’akan keselamatan bangsa dan Negara. “….Ya ALLAH apa yang akan terjadi besok-besok ini ??!! seribu takut mulai muncul…namun saya berusaha tenangkan pikiran dan hati…..jawab saya dengan ngelantur :” Bapak….saya datang dengan hati bersih…..saya tidak punya keinginan apa-apa…..dan tidak akan bawa sesuatu barang pun dari rumah ini….”. Napas pun tidak teratur.
“….Bapak…..saya datang hanya mau berdo’a, kebetulan besok mau 17 – an…. Saya sudah dengar semuanya…..saya tahu…..saya harap cita-cita luhur Bapak dapat kami lanjutkan. Berilah semangat ini pada kami semua…generasi ini…” jawab saya untuk menenangkan suasana hati yang lagi kalut.

Pukul 24.15 WITA
saya cepat-cepat selesaikan urusan didalam. Dan langsung beranjak untuk pamit sesegera keluar dari Ruang Semedhi. Pintu kemudian saya tutup, dan berdiri sejenak diluar sambil mengamati…kira-kira situasi apa yang sedang terjadi diluar. “….Mungkin ada tanda-tanda..” guman saya. Sekitar 5 menit saya berada di belakang sendirian. Di depan pintu ruang semedhi sambil menoleh kekiri dan kekanan mengamati keadaan sekitar. “…Tapi…biasa-biasa saja koq…” saya berusaha membesarkan hati. Maklumlah….jantung sudah berdegup keras.
Tidak lama saya disitu….dan langsung masuk kedalam menemui Udin. Siapa tahu Udin juga merasa ada sesuatu yang aneh dibelakang.

Pada saat menuju ke pintu masuk ruangan belakang…..saya langsung berbelok ke kamar beliau, yang letaknya di sisi kiri rumah MUSEUM. Sejenak saya terpaku disitu. Sudah tidak bisa bergerak apa-apa. Melotooot saja melihat Gambar/lukisan beliau yang terletak diatas ranjang tempat tidurnya.

“……. Ini Tempat tidur saya.…” suara itu tiba-tiba datang lagi. Badan saya sih biasa saja…namun saya dengar suara itu tapi tetap terpaku tidak bergerak.

Kemudian saya dibawa menuju ke ruangan sebelah kanan…….terpaku…..tapi tidak ada suara apa-apa.
Namun pertanyaan muncul :”…ini kamarnya siapa …?? Bertanya saya dalam hati. Karena saya belum tahu.

Setelah itu saya dibawa menuju ke Ruang kerja…….dan disuruh memaknai setiap kata dalam Amanat beliau memperingati HUT RI VI. Itu saja.

“…..duduk….dan catat ini semua…”. Suara itu….

Saya pun akhirnya menulis di buku yang kebetulan ada didalam ransel kecil. Biasanya saya bawa bila ada kegiatan Ke-Pencinta Alaman di Organisasi kami. Saya sudah 2 tahun menjabat SEBAGAI Sekretaris Gerakan Muda Pencinta Alam (GERDAPALA) ENDE. Kebetulan ransel itu saya kenakan di pinggang.

Pesan-pesan itu saya ingat dengan baik dan saya tulis sampai selesai.
Setelah selesai…saya merasa tidak perlu berlama-lama disini. Saya kemudian beranjak dan menuju ke Ruang Tamu/Pajang di depan untuk menemui Udin dan mengajak pulang.
“….Udin….udin…!!.” sambil menggoyang lengannya dan berusaha membangunkannya. Dia tertidur pulas.
“Koq…si Udin ini bisa tertidur?? Padahal tadi masih baca buku…” Sambil keheranan memandang Udin yang tertidur pulas dan tidak tahu apa-apa yang sudah terjadi…
”…..berarti si Udin benar-benar tidak tahu kejadian tadi….”. yakin saya.
“ Ayo kita pulang…sudah jam setengah 1 malam ”. Ajak saya setelah berhasil membangunkannya, dan kemudian kami berkemas dan pulang.

Esok Pagi ….Pukul : 10.30 WITA
( Lapangan PERSE Ende )

Keinginan yang kuat untuk menyaksikan Detik-detik Proklamasi di Lapangan PERSE Ende begitu membekas sejak tadi malam. Memang agak terlambat sih. Namun tidak mengurungkan niat untuk tetap berangkat. Pada saat itu tidak ada dalam pikiran sadar untuk hubungkan kejadian semalam.
Cepat-cepat buru waktu…berangkatlah saya. Ditemani sebuah tustel kecil merk GOKO J -30s yang dipinjamkan seorang sahabat (Imam). “Kebetulan rol film masih ada sisa 20-an x …cukuplah untuk merekam momen bersejarah bangsa ini…” hemat saya.

Sepeda motor saya parkir dan langsung menuju keramaian. Berhubung sangat ramai penonton, pilihan saya akhirnya jatuh pada lokasi taman Situs Pohon Sukun ( Tempat Perenungan Pancasila oleh Bung Karno ). Tepat didepan seberang jalan Rumah Jabatan Bapak Wakil Bupati Ende.

Terlambat juga sih, menyaksikan upacara yang sudah selesai, namun barisan drum band masih ada didalam…Syukurlah masih ada yang bisa ditonton. Selang beberapa menit, mulailah saya berinisiatif memotret ….. “ asyik juga sepertinya ….” Kilahku. Fokus yang saya ambil adalah bendera. Dengan latar tribun kehormatan dan pemandangan disekitarnya.
Selama pemotretan ….. tanpa saya sadari focus itu tidak pernah bergeser selama 5–6 kali pemotretan. Entah….jadi tanda tanya ??. Padahal saya selalu bergerak ke barat untuk mencari focus pemotretan baru. Akhirnya beberapa kali pemotretan itu … bendera selalu menjadi focus utama. Malah ketika bergerak menuju ke Situs Pohon Sukun, fokus pun tetap mengambil bendera !!?? Gambar bendera ini saya potret tepat dicelah tengah antara cabang Pohon Sukun itu. (Bukti Foto kejadian terlampir).

Tak beberapa lama berselang….saya tertarik dengan aksi beberapa adik-adik Paskibraka di Tribun Utara yang sudah selesai upacara. “Tapi….kalau saya kesana jauh sekali, keseberang di siang bolong…bisa lelah” pikirku dari tempat Situs Pohon Sukun. Terdiam beberapa saat…bingung. Namun ada sesuatu yang mendorong saya untuk harus berjalan kesana. Tapi beberapa kali bingung … entah malaslah…siang hari lah dan berbagai alasan agar saya tetap disini, ditempat teduh.
Tapi kemalasan itu tetap kalah juga dengan suara yang semakin kuat ….”Kamu harus kesana!!!”.

Yaa…terpaksa dengan jalan kaki, kesana. Tiba disana….bingung lagi…”apa yang mau dipotret?” kilah saya. Ada perasaan mendua yang membuat saya tetap tidak bisa memotret. Maklumlah…semua ini tidak punya rencana. Namun keinginan itu dipaksa oleh suara itu untuk tetap memotret. “…Kamu harus kebawah” Saya pun mengikuti suara itu dan berjalan ke trap paling bawah tribun bagian timur. Persis didepan RSPD Ende, saya turun kebawah. Sampai dibawah….saya bingung lagi sampai akhirnya saya menemukan media untuk dipotret. “Ya…adik-adik Paskibraka…!! Tegas saya.

Kemudian panggilah mereka 3-4 orang yang kebetulan ada disekitar tempat itu. Herannya…pada saat pemotretan….fokus selalu saya ambil dengan latar bendera !!?? bahkan 2-3 x pemotretan selalu dengan latar belakang bendera.

“….Ada apa dengan semua ini…??!! Tanya saya. Koq semua harus mengambil gambar bendera ??!!. Maksudnya apa…yaa…?? renung saya.
Semakin bingung dengan suara itu…dan kejadian barusan yang saya alami. Saya akhirnya pulang dengan tanpa ada keputusan apa-apa untuk menjelaskan peristiwa yang akan terjadi.

Baru keesokan pagi tanggal 18 Agustus 2005…barulah saya dapat kabar dari seorang kakak yang kerja sebagai staf KODIM Ende bahwa telah terjadi jatuhnya bendera dan beberapa kejadian anak Paskibraka yang tak sadarkan diri. Saya pun kaget, karena upacara bendera sore hari, saya tidak sempat hadir untuk menonton.

Saya pun bertanya dalam hati….apakah rentetan peristiwa yang saya alami sejak 16 Agustus 2005 di MUSEUM BUNG KARNO, Pemotretan bendera dan adik-adik Paskibraka merupakan awal pertanda tentang peristiwa-peristiwa itu ??!! Apakah suara itu adalah Pesan atau Amanat dari seseorang ??

Demikian sekelumit peristiwa itu. Saya sadar bahwa keberadaan saya disana (MUSEUM BUNG KARNO) bukanlah sesuatu yang kebetulan…apalagi direncanakan. Dan saya sadar bahwa saya hanya sekedar menyampaikan amanat untuk semua…kita…rakyat dan bangsa Indonesia ini. Begitu pentingkah…?

Dalam renungan peristiwa itu ….akhirnya saya mengambil keputusan untuk menceritakan kisah nyata ini kepada publik. Bagi saya bahwa, ini adalah amanat dan kewajiban yang harus disampaikan pada semua elemen bangsa. Terlebih lagi bahwa, Kota Ende adalah kota sejarah. Kota lahirnya Pancasila. Kota yang memiliki keterkaitan history dengan perjalanan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Merenung beberapa pesan diatas, dimaknai sebagai berikut :
1.Bahwa upacara resmi kenegaraan dalam memperingati moment HUT 17 Agustus setiap tahunnya khususnya di Kabupaten Ende, tepatlah diadakan juga dengan penghormatan resmi dan pelepasan bendera dari rumah/MUSEUM BUNG KARNO. Demikian pula setelah bendera diturunkan, juga diadakan upacara resmi pengembalian bendera ke rumah /MUSEUM BUNG KARNO.
Kekecewaan beliau yang terucap dalam bait-bait pesannya menunjukan bahwa :
a)Kita harus tetap mengingat jasa-jasa Proklamator dan para pahlawan lainnya yang telah bersusah payah berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia yang tercinta ini.
b)Dengan ini tentunya, generasi tidak akan melupakan sejarah perjuangan para Pahlawan Bangsanya dan menjadi benang yang tidak akan pernah putus untuk tetap dilanjutkan semangat dan perjuangannya.

2.Bahwa akan ada suatu peristiwa penting pada Negara ini, dan peristiwa itu hanya bisa diselesaikan dalam kurun waktu kepemimpinan generasi berikutnya.
Momen jatuhnya bendera dari ikatan tali bagian atas sampai berhasil diselamatkan oleh salah satu Pengibar Bendera tidak boleh diartikan lewat begitu saja. Peristiwa itu tentu punya pertanda karena Hari Proklamasi adalah Hari Sakral untuk Bangsa Indonesia.
Bahwa ada campur tangan seseorang dan jutaan jasad lainnya yang telah tiada, turut andil didalam peristiwa itu. Seseorang dan jutaan jasad itu adalah mereka-mereka yang telah gugur korbankan jiwa raganya hanya untuk membela sebuah bendera. Sekali lagi, peristiwa ini tidak dimaknai secara sederhana saja dengan beralasan kesalahan teknis jahitan tali yang sudah tidak kuat, tapi lebih dari itu ada baiknya kita renung bahwa begitu banyak jasad hidup dan jasad yang telah gugur yang berkepentingan dengan kemerdekaan ini.

3.Bahwa ketika Bangsa Indonesia kehilangan jati diri, maka kembalilah bercermin pada Sejarah.
Cara melihat sejarah dimulai dengan meluruskan sejarah karena begitu banyak peristiwa bangsa Indonesia ini dikumpulkan dalam versi sejarah atas dasar kepentingan penguasa.
Bait pesan….Bendera itu harus disini….disini sejarah adalah makna untuk kita kembali pada sejarah. Oleh karena itu sebagai bangsa yang betul-betul menghayati makna kemerdekaan dan cinta tanah air, kita dapat merespon pertanda ini dengan sikap yang bijak.

semuanya kembali kepada kita yang memaknai, berfikir, dan MEMUTUSKAN apa yang kita akan lakukan.

Semoga ini bermanfaat buat kita semua. Amin.

Salam Hormat,
Pembawa berita dan masyarakat awam,

3 thoughts on “…. AMANAT BUNG KARNO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s