Pamit pada senja di Kelimando…

…..yang kuingat hanya satu, kuingin kembali berada ditengah lautan …menyaksikan segala keindahan Kelimando sambil berbincang dengan pelikan kecilku…..

Sehabis mengobrol dengan Bapak JAenuddin, aku, Pak Sulaeman dan Bang Adnan pamit pulang. Kami naik dengan perahu motor TS 128 pesanan Ka’e Ibrahim. Mesin dibunyikan, perlahan namun pasti bergerak keluar dari teluk Kelimando menyusuri setapak demi setapak ketenangan hempasan ombak di batu karang

Senja itu, udara begitu dingin dan sejuk, Buih-buih gelombang menghempas perahu seakan menginsyaratkan perlawanan….:”kenapa secepat itu sahabat pulang ? kenapa secepat itu sahabat meninggalkan kami dan kampung Kelimando ?Ketika, aku menatap senjanya dikala sore, matahari seakan tersenyum simpul melambaikan sapaan sahabat.………………

Namun Pulau Ende yang kulihat sekarang, tidaklah seperti Pulau Ende yang kuingat dulu. Potret kemiskinan di Pulau Ende terasa membingkai. Dikiri kanan terlihat rumah-rumah yang rapuh termakan usia. Debu jalanan dimana-mana. Di pesisir, kutemui tembok-tembok penahan yang rapuh termakan abrasi. Tumbuhan rambat pantai yang seharusnya berfungsi sebagai “buffer zone” sudah berkurang, bahkan dibeberapa tempat terlihat hanya gundukan pasir. Apakah Pulau Ende sudah termakan waktu ? atau senyum Pulau Ende sudah tak lestari ?

Sepasang Kekasih….

Sambil meninggalkan kerinduan yang penuh tanya ini…perahu kami lepas ke tengah lautan. Disisi kananku, kutinggalkan Sahabat kecil benteng “Pulau Songo” yang terdiam membisu. Di kejauhan tampaklah gunung Iya dan guning Meja memadu kasih dikala senja….

Kulihat beberapa perahu motor berlalu lalang. Ada yang sekedar berlabuh ditengah laut dan ada yang bersiap-siap membawa tuannya mencari ikan di tengah lautan. Dari hasil tangkapan inilah akan dijual ke Ende esok harinya dan ada yang hanya untuk makan sehari-hari bersama keluarganya. Terlihat 2 nelayan itu asyik menganyam gulungan pancing. Gulungan itu seperti balok bundar yang dipasang untaian mata kail sebanyak 50 urat. Kulihat dari kejauhan, mereka menaruh 3 gulungan balok. 150 urat jadinya. Senja…gulungan itu dipasang di permukaan laut, pagi harinya di gulung. Kadangkala dapat ikan-ikan besar : kakap, tuna dan pelagis.

Pelikan-pelikan Kecil~Que
Tanpa aku sadari….aku bertemu dengan kerumunan pelikan kecil yang asyik berapung-apung di tengah lautan. Mereka asyik mematuk-matuk mencari plankton. Warnanya-pun indah. Sayapnya abu-abu kehijauan, sedangkan badannya berwarna putih. Mereka terbang 10 hingga 50 meter berpindah tempat.Pikirku..“koq bisanya mereka berapung dan terbang…?padahal kan punya berat seperti aku ? yaa sudahlah daripada pusing. “Kan Sang PENCIPTA jadikan Alam ini punya rahasia ? kilahku, sambil meminum sebotol aqua yang dipegang dari tadi.

Lilin Kecil
Senja telah berlalu…kulihat matahari hilang dari balik pegunungan “Ambu mboro mbotu”.Takkala Barai terlihat diantara lipatan bukit lembah gung Kengo. Tak lama kemudian…malam pun tiba…. diatas perahu motor kecilku…lilin-lilin bercahaya. Seperti juga kunang-kunang yang bertebaran cahayanya satu persatu. Itulah Kota Ende.Kota yang kucintai dikala malam.

Senja di Kelimando…
Membawa kenangan Pulau Ende.Kapan lagi aku kan kembali. Esok…bulan depan…tahun depan…aku tak tahu. Yang kukenang hanya satu. Aku ingin kembali ke Kelimando, berada ditengah lautannya, bergurau dengan pelikan-pelikan kecilnya, sambil tidur di atas perahu bersama senjanya…..

One thought on “Pamit pada senja di Kelimando…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s