Membangun Industri Musik NTT

Sasando

Kalau dicermati ternyata perjalanan musik NTT di ranah online sangat mengagumkan, dengan beragam pendapat, komentar dan kreatifitasnya. Banyak pula pernyataan semangat dalam bentuk teks, rekaman dalam bentuk audio maupun video diupload.

Malah satu hal yang dicermati bahwa topik dan grup tentang musik NTT mulai menunjukan kepeduliannya, tidak sebatas musik saja, tetapi sudah “menjalar” ke segala sisi seni dan budaya NTT. Patut diapresiasi semangat dan inovasi tsb.

Sebut saja :

1.      MUSIK DAN VISUAL NTT

2.      Cintai Musik Dalam Propinsiku NTT

3.      ANAK NTT BERMUSIK

4.      N-MOTION (Ntt Music Connection)

5.      LONTAR COMMUNITY

6.      musisi kupang

dan masih banyak grup lainnya…..

1 hal yang mungkin perlu dipertimbangkan adalah, mampukah kita melakukan “lompatan” thd semua kekayaan ini kedalam “kompilasi” yang utuh maupun “pelestariannya”. Suatu karya yang baik bukan semata-mata dihargai karena karya itu bisa muncul sempurna tanpa cela sedikitpun, tetapi juga suatu karya yang dapat diterima dan menjadi inspirasi dan dikembangkan kreatifitasnya bagi orang lain dan Indonesia tentunya.

Diagnosa

Diagnoasa

Kita coba melihat sebuah diagnosa acak tentang musik NTT kedepan :
1. Gerakan tersebut mendorong atau meningkatkan efektivitas pencipta untuk penghasilan karya sehingga karya tersebut bisa menghampiri atau mendekati komunitas penikmatnya.
2. Membangun platform industri musik yang utuh, dengan mencari pemecahan thd mekanisme marketing seni budaya NTT yang masih konvensional dan masih tersumbat. Seperti distribusi, promosi hingga pilihan yang terbatas.

3. Potensi digitalisasi dapat membuka sumbat, masalah distribusi jadi murah, produksi tidak terlalu mahal karena tidak butuh studio yang canggih tapi dengan teknologi ICT hal tersebut bisa lebih efisien. Adanya media-media yang bisa mempertemukan antara demand dan supplay inilah yang nantinya diharapkan bisa memberikan fasilitasi untuk bertukarnya value antara yang punya dengan yang membutuhkan. Di situlah terjadi interaksi.

4. Menerapkan sistem long tail, artinya siapa saja bisa bergabung dan menyerahkan karyanya. Mulai dari masyarakat umum, yang belum dikenal hingga yang telah berjaya dan memiliki nama dapat ditampung di platform tsb.

Apa yang disiapkan ?
Di samping festival musik, kita menyiapkan sebuah habitat/gerakan yang diharapkan dapat menghasilkan efektivitas dari kualitas karyanya. Platformini terdiri dari 3 (tiga) hal yakni : Platform KREASI, Platform EMBRIO dan Platform SAHABAT.

1. Platform KREASI,

Sasando-ntt-folk-music2 jogjaicon 2011

bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pencipta untuk menghasilkan musik yang lebih berkualitas sehingga layak untuk komersial. Kegiatan dilakukan dalam bentuk training, workshop dan pemberian tips-tips.

2. Platform EMBRIO,

Cd

Platformkedua adalah Embrio, yang berfungsi untuk mewadahi komersialisasi dari karya-karya kreatif agar nantinya bisa menjadi kegiatan yang menghasilkan.

3. Platform SAHABAT,

PosterANbi

Sedangkan terakhir adalah Platform Sahabat. Ini adalah program jangka panjang yang berguna untuk membangun interaksi yang lebih baik antara musisi dan fansnya. Sehingga, nantinya akan muncul efek yang saling memberi atau mendorong motivasi.

Bagaimana nanti media dan outputnya?
Kita menggunakan fasilitas yang sudah dimiliki antara lain grup online diatas untuk membangkitkan industrinya. Grup online bisa membangun interaksi dengan fans. Tapi bisnisnya sendiri bisa dari RBT, merchandise, kompilasi CD, atau dari download-download berbayar dari portal musik. Sehingga, nanti orang tidak harus beli seluruh album, sehingga ada fleksibilitas.

Media-media ini kita gabungkan dengan model bisnis yang berbeda. Sekarang yang berkembang dalam dua tahun terakhir adalah RBT. Dengan memadukan web dan RBT makin membuka sumbat, dari yang belum tersentuh jadi bisa dikenal. Grup online  juga akan upgrade ke portal atau website dengan teknologi yang lebih canggih. Ini adalah platform untuk dapat menunjukkan konten-konten musik.

Di portal tersebut, selain daftar musik, ada rating, review, interaksi, komentar, untuk membangun interaksi antara pemusik dan pendengar, informasi tentang payment, promosi dan distribusi hingga transaksi. Bisa dilihat di mobile, internet, yang akan kita coba upgrade, tak sekedar web. Untuk pembayarannya Group harus memiliki platform micropayment.

Jadi kita ingin bagaimana mengimplementasikan digital lifestyle—yang dalam sehari-hari sudah dekat dengan kehidupan melalui RBT, handphone, internet. Nanti akan makin kaya lagi yang bisa diberikan.

Apa Harapan musik NTT untuk program ini?
Paling tidak Platform ini dapat menggairahkan, menumbuhkan kreativitas digital sehingga bisa melahirkan Digital Entrepreneur NTT baru. Tugas kita bersama …..

Harapan

************

sumber :

Gambar dan tulisan diambil dr beberapa sumber media publikasi musik NTT

Film Apa Yang Pertama Di Indonesia?

http://hermawayne.blogspot.com

Loetoeng Kasaroeng adalah sebuah film Indonesia tahun 1926. Meskipun diproduksi dan disutradarai oleh pembuat film Belanda, film ini merupakan film pertama yang dirilis secara komersial yang melibatkan aktor Indonesia.

2. Eulis Atjih (1927)

http://hermawayne.blogspot.com

Sebuah film bisu bergenre melodrama keluarga, film ini disutradarai oleh G. Kruger dan dibintangi oleh Arsad & Soekria. Film ini diputar bersama-sama dengan musik keroncong yang dilakukan oleh kelompok yang dipimpin oleh Kajoon, seorang musisi yang populer pada waktu itu. Kisah Eulis Atjih, seorang istri yang setia yang harus hidup melarat bersama anak-anaknya karena ditinggal suaminya yang meninggalkannya untuk berfoya-foya dengan wanita lain, walaupun dengan berbagai masalah, akhirnya dengan kebesaran hatinya Eulis mau menerima suaminya kembali walaupun suaminya telah jatuh miskin.

3. Lily Van Java (1928)

http://hermawayne.blogspot.com

Film yang diproduksi perusahaan The South Sea Film dan dibuat bulan Juni 1928. Bercerita tentang gadis yang dijodohkan orang tuanya padahal dia sudah punya pilihan sendiri. Pertama dibuat oleh Len H. Roos, seorang Amerika yang berada di Indonesia untuk menggarap film Java. Ketika dia pulang, dilanjutkan oleh Nelson Wong yang bekerja sama dengan David Wong, karyawan penting perusaahaan General Motors di Batavia yang berminat pada kesenian, membentuk Hatimoen Film. Pada akhirnya, film Lily van Java diambil alih oleh Halimoen. Menurut wartawan Leopold Gan, film ini tetap digemari selama bertahun-tahun sampai filmnya rusak. Lily van Java merupakan film Tionghoa pertama yang dibuat di Indonesia.

4. Resia Boroboedoer (1928)

http://hermawayne.blogspot.com

Film yang diproduksi oleh Nancing Film Co, yang dibintangi oleh Olive Young, merupakan film bisu yang bercerita tentang Young pei fen yang menemukan sebuah buku resia (rahasia) milik ayahnya yang menceritakan tentang sebuah bangunan candi terkenal (Borobudur). Diceritakan juga di candi tersebut terdapat sebuah harta karun yang tak ternilai, yaitu guci berisi abu sang Buddha Gautama.

5. Setangan Berloemoer Darah (1928)
Film yang disutradarai oleh Tan Boen San, setelah pencarian di beberapa sumber, sinopsis film ini belum diketahui secara pasti.

6. Njai Dasima I (1929)

http://hermawayne.blogspot.com

Film ini berasal dari sebuah karangan G. Francis tahun 1896 yang diambil dari kisah nyata, kisah seorang istri simpanan, Njai (nyai) Dasima yang terjadi di Tangerang dan Betawi/Batavia yang terjadi sekitar tahun 1813-1820-an. Nyai Dasima, seorang gadis yang berasal dari Kuripan, Bogor, Jawa Barat. Ia menjadi istri simpanan seorang pria berkebangsaan Inggris bernama Edward William. Oleh sebab itu, akhirnya ia pindah ke Betawi/Batavia. Karena kecantikan dan kekayaannya, Dasima menjadi terkenal. salah seorang penggemar beratnya Samiun yang begitu bersemangat memiliki Nyai Dasima membujuk Mak Buyung untuk membujuk Nyai Dasima agar mau menerima cintanya. Mak buyung berhasil membujuk Dasima walaupun Samiun sudah beristri. Hingga akhirnya Nyai Dasima disia-siakan Samiun setelah berhasil dijadikan istri muda.

7. Rampok Preanger (1929)
Ibu Ining tidak pernah menduduki bangku sekolah, tahun 1920-an adalah seorang penyanyi keroncong terkenal pada Radio Bandung (NIROM) yang sering pula menyanyi berkeliling di daerah sekitar Bandung. Kemudian ia memasuki dunia tonil sebagai pemain sekaligus sebagai penyanyi yang mengadakan pagelaran keliling di daerah Priangan Timur. Main film tahun 1928 yang berlanjut dengan 3 film berikutnya. Film-film itu seluruhnya film bisu. Ketika Halimoen Film ditutup tahun 1932, hilang pulalah Ibu Ining dari dunia film. Namun sampai pecahnya PD II, ia masih terus menyanyi dan sempat pula membuat rekaman di Singapura dan Malaya. Pada tahun 1935 ia meninggal dunia dalam usia 69 tahun karena sakit lever.

8. Si Tjonat (1929)
Cerita dalam film ini berputar pada kisah seseorang yang dijuluki si Tjonat. Nakal sejak kecil, si Tjonat (Lie A Tjip) melarikan diri ke Batavia (Jakarta) setelah membunuh temannya. Di kota ini ia menjadi jongos seorang Belanda, bukannya berterima kasih karena mendapat pekerjaan, ia juga menggerogoti harta nyai tuannya itu. Tak lama kemudian ia beralih profesi menjadi seorang perampok dan jatuh cinta kepada Lie Gouw Nio (Ku Fung May). Namun cintanya bertepuk sebelah tangan, penolakan Gouw Nio membuatnya dibawa lari oleh si Tjonat. Usaha jahat itu dicegah oleh Thio Sing Sang (Herman Sim) yang gagah perkasa.

9. Si Ronda (1930)

http://hermawayne.blogspot.com

Film ini disutradaria oleh Lie Tek Swie & A. LOEPIAS (Director of Photography), dan dibintangi oleh Bachtiar Efendy & Momo. Film ini bercerita tentang kisah seorang jagoan perkelahian yang mengandung unsur kebudayaan Cina.

10. Boenga Roos dari Tjikembang (1931)

http://hermawayne.blogspot.com

Film bersuara pertama di Indonesia, film ini menceritakan tentang hubungan antar etnis Cina & pribumi. Dalam film ini, The Teng Chun bertindak sebagai sutradara dan kamera. Cerita ini dikarang oleh Kwee Tek Hoay dan pernah dipentaskan Union Dalia Opera pada 1927, meskipun cuma ringkasan cerita saja, yaitu tentang Indo-Tiongha. Dan film ini diberitakan oleh pengarangnya film Cina buatan Java ini adalah karya Indo-Tiongha.

Bonus
Darah dan Doa (1950), film pertama Indonesia yang dibuat oleh orang Indonesia

http://hermawayne.blogspot.com

Darah dan Doa adalah sebuah film Indonesia karya Usmar Ismail yang diproduksi pada tahun 1950 dan dibintangi oleh Faridah. Film ini merupakan film Indonesia pertama yang sepenuhnya dibuat oleh warga pribumi. Film ini ialah produksi pertama Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), dan tanggal syuting pertama film ini 30 Maret 1950, yang kemudian dirayakan sebagai Hari Film Nasional. Kisah film ini berasal dari skenario penyair Sitor Situmorang, menceritakan seorang pejuang revolusi Indonesia yang jatuh cinta kepada salah seorang Belanda yang menjadi tawanannya.
 
************************************************************************

Sumber: perfilman.pnri.go.id,
bambang-gene.blogspot.com

Samba dan Sahabat, saingan Upin dan Ipin

Naah..ini baru seru.

95411_upin-ipin

Indonesia akhirnya memiliki film sendiri untuk menyaingi Upin dan Ipin. Film “Samba dan Sahabat” rencananya ditayangkan 26 episode akhir November 2010.

Tayangan ini akan diproduksi oleh Kementerian Agama RI. Samba dan Sahabat ini merupakan kumpulan cerita anak madrasah yang dikemas secara sederhana, namun menarik, lucu dan tidak membosankan.

tak kalah

Anak dan televisi

Latar belakang peluncuran film animasi bertujuan menanamkan pendidikan karakter bangsa kepada anak-anak Indonesia melalui pendekatan kreatif, inovatif, menyenangkan dan atraktif. Sebuah tontonan sekaligus tuntunan, film animasi 3D yang tak kalah dengan produk impor : Upin dan Ipin.

Memang sih, kita seharusnya prihatin lho terhadap sedikitnya tontonan di televisi yang tidak mampu memberi tuntunan yang baik. Kalau dilihat sih masyarakat khususnya anak-anak Indonesia memerlukan lebih banyak film animasi yang berkarakter dan berbudaya lokal.

Coba lihat saja sekarang ini, kecenderungan anak-anak yang menggemari film animasi superhero buatan bule, biasanya menjadi pribadi individual. Kita butuh kearifan lokal yang menyetai anak-anak sedari dini untuk menjadi generasi bangsa yang berkarakter Indonesia. Semoga

Cakrawala

***********

Sumber: VIVA News,media indonesia

Music Arts of Ende Lio

art ende lio

art ende lio

Music is sound produce by human’s voice and music equipments. Traditional art music of Ende Regency could be seen on song/ rhyme such as Doja, Nde’o Peo, or Oro bhe’a and sound from music equipments as the rhythm. There are some traditional music’s such as:

a.Ground MusicTraditional music:

where people repeatedly jerk their feet at ground as the rhythm. It could be seem on Gawi/ Naro or Todo Pare dances.

b.Stone MusicTraditional music:

where people used stone as the rhythm to accompany the song ‘O lea’ while stepping corn.

c.Nggeri Nggo :

The tools of this music made from bamboo. This kind of music usually played on running Nainuwa (circumcision) ritual.

d.Nggo Dhengi/Nggo Bhonga :

The tool of music made from seven pieces of wood (wae/ dena wood) and tied with rope. This music usually plays on leisure time or accompanies the traditional dances.

e.Gaku:

The tools of this music made from bamboo. This usually played on when people Dowe Dera ritual. It functions to as the sound tool on Ele seda and scare row on the farm.

f.Geko :

This is not included music equipment, because it usually used for scare row. Geko made of bamboo and on mid part of bamboo joints formed like and arch. It equipped by net too. Under of its end edge connected with rope and stem of areca nut. This equipment would make sound if blowing by wind. It usually hanged on bamboo mast or branch of tree.

g.Gobi-Gobi :

is kind of music equipment which made from thin bamboo blade. Two end of its edge tied on thread, to produce sound bamboo squeeze on teeth then pull out the thread.

h.Sato :

This is included the stringed instrument formed like a violin which made of Bila fruit or coconut shell and equipped by handle, string from fiber or lema mori leaves or aloe and sap of canary tree. The string made like a small arch.

i.Nggo lamba/wani :

Nggo wani/ lamba music consists of :
1. lamba/ wani, nggo, : Lamba / waniThe tool of this music made of bark of jackfruit tree or coconut tree that perforated on mid part of it. On the bottom of the hole hold with bamboo blade and chicken and covered by leather of cow. There is lamba/ wani made from human skin in Wologai – Detusoko with the heater from coarse grass. Lamba / wani consist of two kinds: Lamba ine and lamba ana. Lamba/wani ana is smaller than lamba ine.
2.Nggo : Nggo/gong made from brass or iron, formed circled with hump on mid part of it. Nggo consist of three kinds:
a.Nggo dhengi dho
b.Nggo senawa
c.Nggo demu / bass
Deri Deri is the complement music tool of nggo lamba/ wani. Deri made of a piece of brass or bamboo.

j.Feko/fluteFeko/flute:

made of bamboo, (wulu/ bela),. Feko composed on some kinds:
Ø Feko nangi Feko nangi usually play on mid night with lament tone.
ØFeko bu Feko Bu usually is played on improvisation violin tone accompanied with drums. Feko bu also named flute of shepherd.
ØFeko redhoFeko/redho is usually played to accompany wedding or others rituals affairs.
ØFeko riaFeko ria is usually played on group harmonically in mars rhythm on wedding ceremony or in other formal ceremonies.
ØFeko pupu Feko pupu appeared in unique shaped like pump and to play it by moving those bamboos up and down to produce bass tone.

k.Genda/albana

Genda/ albana made of bark of coconut tree and leather from goat. It shaped like cooking pot on its surface. In its composition, genda composed on three kinds:
Ø Genda redhu, appeared in small size with two genda
Ø Genda wasa, appeared in medium size with two genda
Ø Genda large size with one genda Genda jedhu, apperead in / albana music is usually formed compound with flute and song to accompany wanda Pau dances in a wedding or circumcision rituals.

ENDE LIO Traditional Villages (English)

The Etiology of The Occupants

Historically, the first inhabitants of Flores Island was Wajak people from 40.000 years ago. After the glacial period about 4000 years ago, Nusa Tenggara (Lesser Sunda Island) separated from Asian main land. It started imigration from Asia to the south. The imigration were Proto Malayid from Yunan and China hinterland. They inhabited on west and middle of Flores. Physically, the inhabitants were characterized Melanosoid, Negroid, Papua and Australoid.

Baca lebih lanjut

Perkampungan Tradisional Ende Lio

Asal-usul Masyarakat adat pendiri kampung adat

 

Kampung adat sokoria

 

Penelusuran sejarah mengatakan bahwa penduduk pertama di Pulau Flores adalah manusia Wajak, yang muncul sekitar empat puluh ribu tahun lalu. Setelah zaman Glasial sekitar empat ribu tahun yang lalu, Nusa Tenggara terpisah dari Asia daratan. Terjadilah imigran dari asia ke selatan. Kelompok imigran itu adalah Manusia Proto Malayid yang berasal dari Yunan dan Pedalaman Indo Cina. Mereka mendiami Flores bagian barat dan tengah. Secara fisik mereka itu memperlihatkan ciri-ciri Manusia Melanesoid, Negroid, Papua dan Australoid.

 

Profesor Yosep Glinka ( Pakar Antropologi Ragawi ) yang  membuat studi tentang Manusia NTT, mengatakan :  ‘ ……ATA Lio di Flores Tengah merupakan penduduk tertua di Flores,……ATA Lio bertetangga dengan ATA ENDE. Diantara keduanya tak terdapat hubungan Geneologis. Antara keduanya  juga bertetangga dengan ATA NAGEKEO dibarat, dan ATA SIKKA dibagian timur….’

 

Sejauh mana ungkapan kebenaran penelitian ini, tentu membutuhkan pengkajian dan pembuktian lebih mendalam. Yang jelas masyarakat adat dari dua ethnis besar ini ada dalam satu kesatuan geografis dan memiliki beberapa kesamaan budaya dan adat istiadat seperti cara berpikir membangun kampung adat serta acara seremonial.

 

Riwayat Perkampungan Tradisional

 

Keberadaan kampung tradisional sebagai jawaban atas tuntutan kebutuhan akan rumah dan kampung tempat tinggal bersama. Nenek moyang kedua Ethnis ini membangun rumah dan perkampungan adat telah menggunakan teknologi dan arsitektur tersendiri  sebagai manifestasi hasil cipta, karsa dan karya seni budaya di zamannya.

 

Sejarah membuktikan bahwa jauh sebelum peradapan modern, di wilayah Kabupaten Ende telah hidup nenek moyang dari dua ethnis dalam suatu peradaban yang telah maju di zamannya. Mereka memiliki kemampuan dalam mengekspresikan seni budayanya dalam bentuk karya sebuah perkampungan tradisional yang bernilai tinggi arsitekturnya sehingga hal ini menjadi bahan penelitian para pakar bangunan.

 

Perkampungan tradisional dengan bangunan-bangunan rumah adat dan bangunan pendukung lainnya seperti KEDA, KANGA, TUBU MUSU merupakan warisan leluhur, walaupun di beberapa tempat sudah mengalami perubahan dan kepunahan dari bentuk aslinya akibat proses alam, perjalanan waktu, dan ulah manusia, namun demikian tetap mempunyai nilai sejarah dan daya tarik bagi wisata budaya.

 

TUBU MUSU

 

 TUBU MUSU

 

Rasa kebersamaan dan tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan warisan budaya nenek moyang masih mewarnai kehidupan masyarakat adat sekarang seperti dalam upaya membangun kembali kampung dan rumah adat di Nggela, Wiwipemo, Jopu, Mbuli, Wologai, Ndona dan beberapa tempat lain. Kegiatan ini berkembang menjadi atraksi wisata budaya. Beberapa tempat yang memeiliki tradisi tersebut adalah kampung–kampung tradisional yang tersebar dalam wilayah Kabupaten Ende seperti, Ranggase, Moni, Tenda, Nuakota, Pora, Wolojita, Wolopau, Nuamulu, Sokoria, Kurulimbu, Ndungga, Wololea, Woloare, Wolofeo, Saga, Puu’tuga, dll.

 

Salah satu perkampungan dan rumah adat tradisional yang masih utuh bangunannya adalah Ngalupolo, terletak di Kecamatan Ndona. Perkampungan tua yang menarik dan mempunyai bentuk rumah yang unik dengan arsitektur khas Ende- Lio, walaupun atapnya mirip Joglo seperti di Pulau Jawa – namun berbeda latar belakang filosofisnya. Rumah tinggal dan perkampungan tradisional yang dibangun nenek moyang tersebut, memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya sehingga tampak unik  dan memberikan kedamaian bagi penghuninya.

 

Keda ngalupolo

 

Keda, Kanga, Tubu Musu dan Kuburan Kuno

dikampung adat Ngalupolo – Ndona

 

Perjalanan waktu yang begitu panjang dan alkuturasi budaya akibat masuknya ethis pendatang dari luar, seperti dari Bugis, Makasar dan Bima,telah mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat. Pada awalnya, nenek moyang ATA Ende membangun rumah dan perkampungan adat sama seperti ATA Lio, namun pada perkembangannya mengalami perubahan yang kemudian disebut ‘ Sao Panggo’ atau ‘Tiga Tezu (Rumah Panggung Tiga Kamar) dimana tiang, dan lantainya terbuat dari balok kayu atau kelapa gelondongan, berdinding bambu, beratap daun kelapa atau sirap bambu dengan bentuk atap memanjang dan puncaknya dihias seperti sirip ikan. Rumah ini memiliki kolong.

 

Sao panggo

 

Sao panggo2

 

Sao Panggo dan Sao Tiga Tezu yang masih ada.

Desa AEWORA, Kecamatan MAUROLE

 

…………………………………………………………………..

Sumber : Buku Wisata Dinas Pariwisata Kab. Ende