PENINGKATAN KETRAMPILAN DAN KUALITAS TENAGA KERJA

Sebuah Upaya Pengentasan Pengangguran di Kabupaten Ende

 

 

 

IMG_0071

 

 

Masalah ketenagakerjaan merupakan masalah yang sangat krusial dan mendasar terutama menyangkut meningkatnya jumlah pengangguran. Berdasarkan data BPS, pada bulan Agustus 2006 angka pengangguran mencapai 10,95 juta orang…...

Memperhatikan jumlah penganggur yang cukup besar, merupakan tantangan bagi pemerintah untuk secara sungguh-sungguh menangani masalah ketenagakerjaan. Salah satu penyebab masalah ketenagakerjaan adalah rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan angkatan kerja Indonesia.

Rendahnya tingkat pendidikan angkatan kerja Indonesia disebabkan karena sebagian besar memiliki latar pendidikan Sekolah Dasar 51,94 %, SLTP 20,83 %, SLTA 20,75 %, D3 2,79 % dan Universitas 3,67 %. Dengan rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan tersebut menyebabkan posisi tawar tenaga kerja Indonesia terhadap bursa kerja sangat rendah.       

Dalam perkembangannya, kondisi ketenagakerjaan sampai saat ini tetap menunjukan suatu permasalahan yang kompleks dan akan selalu berkembang seiring pertumbuhan sosial, politik, ekonomi, keamanan serta kebijakan Pemerintah.

 

 Kondisi Ketenagakerjaan di Kabupaten Ende

 

Kondisi Ketenagakerjaan di Kabupaten Ende saat ini menunjukan adanya deviasi antara tingkat pertumbuhan angkat kerja dengan pertumbuhan kesempatan kerja, sehingga terjadilah peningkatan jumlah pengangguran.

 

Secara kuantitatif kondisi tersebut fluktuaktif dan ikut memberikan dampak terhadap permasalahan pengangguran antara lain : Jumlah angkatan kerja Tahun 2005 sebanyak 126.167 orang; Jumlah pencari kerja yang didominasi oleh kelompok Usia Muda lulusan SLTA dengan minus pengalaman dan minus ketrampilan yang terdaftar pada Dinas Nakertrans Kab. Ende dengan perincian sebagai berikut : Tahun 2003 sebanyak 2.339 orang; Tahun 2004 sebanyak 3.526 orang; Tahun 2005 sebanyak 3.140 orang; Tahun 2006 sebanyak 2.923 orang. Keadaan ini sangat riskan, karena tidak diikuti dengan kesempatan atau lowongan kerja yang dapat menyerap tenaga kerja dari berbagai sektor;

Penyerapan Tenaga Kerja pada sektor Primer, Sekunder dan Tersier sangat bervariasi, dimana data menunjukan   sebagian   besar   penyerapannya  didominasi oleh Sektor Primer ( Pertanian ) antara lain:

-     Tahun 2001 sebanyak 79.635 orang  ( 71, 96 % ); Tahun 2002 sebanyak 79.317 orang  ( 64, 11 % ); – Tahun 2003 sebanyak 92.345 orang  ( 71, 25 % ); Tahun 2004 sebanyak 92.445 orang  ( 71, 00 % ); –    Tahun 2005 sebanyak 92.345 orang  ( 79, 00 % );

Penyerapan Tenaga Kerja tersebut, didominasi oleh Tenaga Kerja yang berpendidikan SD ke bawah dengan minimnya ketrampilan dan berdampak pada rendahnya tingkat produktivitas. Penempatan pencari kerja yang terdaftar pada lowongan pekerjaan yang tersedia melalui  mekanisme  Antar  Kerja yang difasilitasi Bursa Kerja Pemerintah dan Swasta ( PJTKI ), baik di Dalam Negeri maupun ke Luar Negeri, belum menunjukan keadaan yang menggembirakan dalam rangka mengurangi jumlah pengangguran atau jumlah pencari kerja yang terdaftar.     

 

 Kondisi UPTD LLK UKM Disnakertrans Kab. Ende

Program Latihan Dasar Ketrampilan dan Produktivitas Tenaga Kerja dalam rangka Pengembangan dan Perluasan Kesempatan Kerja merupakan salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan  yang dihadapi.  Upaya  dimaksud   berdampak   langsung   bagi   pencari   kerja ( masyarakat miskin yang belum trampil ) untuk memperoleh ketrampilan dasar, sehingga para  pekerjaan dapat membangun dirinya dan kelompok, agar secara mandiri dapat menghidupi diri dan keluarganya ataupun masyarakat dilingkungan sekitarnya.

Dalam satu tahun terakhir, UPTD LLK UKM Disnakertrans Kabupaten Ende memang harus terus bergerak. Diagnosa terhadap proses pelatihan yang dilakoni oleh UPTD LLK UKM Disnakertrans Kabupaten Ende membawanya pada tiga elemen kunci yang mungkin bisa menjelaskan sejarah panjang unit yang bermukim di Jl. Anggrek, Mautapaga ini.

Foto(299)

Foto(302)

Kegiatan Pembukaan Pelatihan Institusional Kejuruan Elektronika, Automotive dan Komputer di UPTD LLK UKM Ende

Elemen yang pertama dan mungkin paling vital adalah eksistensi visi yang visioner. Tentu, perlu adanya visi yang tajam dan citarasa yang kuat akan produk pelatihan yang inovatif dan berestetika. Produk itu adalah SDM dan Potensi SDA. Jangkar yang amat menentukan ke arah mana kedua produk ini berhasil secara baik adalah Teknologi.  Teknologi harus dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan yang inovatif dan berestetika.

Toh sejarah kemudian menjadi saksi : betapa UPTD LLK UKM Disnakertrans Kabupaten Ende berupaya melakukan proses adaptasi yang bertahap. UPTD LLK UKM Disnakertrans Kabupaten Ende sendiri sejatinya merupakan Unit Teknis Pelatihan di Kabupaten Ende. Sense of strong leadership. Apapun yang terjadi, tupoksi pelatihan dan garis kedudukan UPTD LLK UKM sebagai Unit Pelatihan khusus yang mencetak kader-kader muda Kabupaten Ende yang trampil dan produktif. Pada sisi lain, UPTD LLK UKM Disnakertrans Kabupaten Ende adalah unit yang seharusnya selalu memburu titik kesempurnaan – baik pada rancangan standarisasi program pelatihan maupun dalam proses manufakturing beragam lini produk pelatihan.

Elemen kedua yang menjadi indikator diagnosa terhadap UPTD LLK UKM adalah: sinergi yang sempurna antara beragam tim – baik tim Perencana/Pengendali kebijakan tingkat Kabupaten, Tim Instruktur di LLK, maupun Kelompok-kelompok Ketrampilan berbasis Masyarakat. Semua melakukan kolaborasi secara paralel dan simultan. Proses penciptaan produk pelatihan di UPTD LLK UKM tidak dilakukan secara setahap demi setahap, dimana setelah pelatihan selesai lalu diserahkan ke Pemerintah Kabupaten Ende, lalu diteruskan lagi ke masyarakat. Sebaliknya, dalam prosesnya semua aspek ini dikerjakan bersama-sama secara simultan. ……Essentially it means that products don’t pass from team to team. It’s simultaneous and organic. Products get worked on in parallel by all departments at once — diagnosa, planning, actualing, benefit, back again to diagnosa, planning, actualing, benefit…until get quality comprehensive product in public —  in endless rounds of interdisciplinary product reviews….ok?

Paralel dan simultan?  Caranya?  Ini saya namakan proses penyusunan LLK Performance Scorecard. Atau secara mengglobal dinamakan Government Performance Scorecard. Performance scorecard sendiri dapat diartikan sebagai upaya untuk mengelola kinerja organisasi LLK melalui serangkaian key performance indicators yang jelas, terukur dan kredibel. Kata kunci disini adalah key performance indicators (KPI). Ada juga yang menyebutnya sebagai key performance metrics atau juga performance measurement.

Konsep key performance indicators sendiri merupakan sebuah instrumen pengukuran yang telah lama dipraktekkan dalam organisasi bisnis. Demikianlah, dalam area keuangan misalnya kita akrab dengan performance metrics seperti sales revenue, net profit, profit growth, return on investment, dan lain-lain. Sementara dalam aspek pemasaran, kita mengenal key metrics seperti brand image index, market share, atau juga customer satisfaction index. Lalu dalam aspek produksi kita familiar dengan ukuran seperti defects rate, production capacity, utilization rate, downtime, dan lain-lain.

Contoh-contoh diatas adalah serangkaian key performance indicators yang lazim digunakan dalam dunia bisnis. Lalu bagaimana dengan sektor publik atau pemerintah khususnya UPTD LLK UKM beserta stake holders yang menopangnya? Kita rasa prinsipnya sama. Artinya, key metrics yang dipilih mesti merupakan indikator yang kredibel – artinya dapat dengan tajam menggambarkan tingkat kinerja LLK UKM yang berkelanjutan. Metrics yang dipilih juga mesti terukur (measurable) – sebab hanya dengan ini maka proses evaluasi kinerja sektor publik dapat dilakukan dengan obyektif; dan bukan sekedar dengan kalkulasi politis nan retoris.

 Performance Scorecard – UPTD LLK UKM Ende
Tingkat Pertumbuhan Sektor Pelatihan – Target 2008 : 6,4 %
Tingkat Pengangguran – Target 2008 : 8 % (tahun lalu 9,75%)
Tingkat Kemiskinan Penduduk – Target 2008 : Turun 20% dibanding 2007, 
Sektor Jasa – Target 2008 : Turun 20% dibanding 2007, dll 

 

Untuk sektor lainnya, kita juga bisa mengambil pola serupa. Sebagai misal untuk  Bidang Kesehatan, KPI yang bisa ditetapkan antara lain adalah: jumlah penduduk meninggal akibat flu burung (target 2008 : harus turun 50 % dibanding 2007 !!) atau juga : jumlah penduduk meninggal akibat demam berdarah (target 2008 : harus turun 30% dibanding tahun 2007).

 

Di negara-negara lain, performance scorecard seperti diatas kemudian ditampilkan dalam website resmi milik pemerintah, sehingga publik bisa ikut memonitor apakah target yang telah ditetapkan bisa tercapai atau tidak. Seperti yang kita lihat, semua metrics yang dipilih dan target yang dicanangkan bersifat terukur. Dengan demikian, pengelolaan kinerja para pengelola pemerintah bisa dilakukan dengan obyektif, transparan dan kredibel.

LLK sebagai sebuah lembaga pelatihan milik pemerintah yang juga notabene juga berkewajiban memberi pemasukan Kas Keuangan di Kabupaten Ende, harus memiliki karakter enterpreneur. Artinya secara simultan bermitra dengan stakeholders yang lain dalam bidang pelatihan yang dapat memberi keuntungan untuk Daerah.

Foto(275)

IMG_0102

Kegiatan rutin tahunan di LLK Ende. Tampak gambar atas, lomba nyanyi. dan gambar kedua diskusi informal Bapak Kepala Dinas Nakertrans Kab.Ende bersama tokoh agama.

Dengan kewajiban capaian target Rp.20 jt/tahun, UPTD LLK UKM Disnakertrans Kab. Ende harus berupaya meningkatkan :

1.      Kuantitas dan Kualitas Instruktur melalui Penempatan dan Upgradding Instruktur

2.      Kuantitas dan Kualitas Sarana Pelatihan melalui Revitalisasi Bengkel Pelatihan

3.      Kuantitas dan Kualitas Sarana Sewa-Menyewa Aset Pemerintah melalui Perawatan Komponen

4.      Kuantitas dan Kualitas Peralatan melalui Pengadaan dan Pemeliharaan Alat Tahunan

5.      Manajemen Unit Produksi dan Jasa yang Baik.

Elemen ketiga mungkin lebih jarang diketahui orang adalah menerjemahkan visi tersebut melalui alat teknologi menjadi rangkaian produk pelatihan yang inovatif dan penuh nuansa estetika alam dan masyarakat. Caranya adalah pengembangan kompetensi dan keahlian.

 

Adapun kompetensi berbasis alam (SDA) dan masyarakat (SDM) yang mampu menjawab tuntutan perkembangan kebutuhan kedepan antara lain sbb :

 

No

Kejuruan

Jenis Pelatihan

Sebelum Tahun 2007

Tahun 2008 Kedepan

1.

AUTOMOTIVE

1.    Mobil Bensin

2.    Mobil Diesel

3.    Sepeda Motor

( Tambal Ban, Mengemudi,dll)

1.      Mekanik Spesialis Rem Manual

2.      Mekanik Spesialis Engine Tune Up

3.      Mekanik Spesialis Emisi Gas Buang

4.      Mekanik Spesialis Wheel Alignment

5.      Mekanik Spesialis Motor Diesel

6.      Mekanik Spesialis Motor Bensin.

2.

MEUBEL KAYU

Meubel Bangunan

1.      Kerja Perabot Dasar

2.      Kerja Perabot Lanjutan

3.      Konstruksi Bangunan Kayu

3.

ELEKTRONIKA

Elektronika Industri Audio

1.      Teknisi Komputer

2.      Teknisi Handphone

3.      Teknologi Sensor

4.      Kontrol Digital

 

4.

TEKNOLOGI MEKANIK

1.     Mesin Perkakas

2.     Las Karbid

3.     Las Listrik

4.     Kerja Plat

1.      Mesin CNC

2.      Mesin Program CAM

3.      Kerja Plat Dasar s/d Lanjutan

4.      Kerja Pipa Dasar s/d Lanjutan

5.      Kerja Cat Dasar s/d Lanjutan

6.      Las CO2

 

5.

ANEKA KEJURUAN

1.     Menjahit

2.     Pertanian

3.     Perkebunan

4.     Peternakan

5.     Processing

6.     Anyaman Bambu

7.     Meubel Rotan

8.     Ukir Kayu

9.     Pangkas Rambut

10. Tenun Ikat

1.      Menjahit dengan Mesin Listrik

2.      Pertanian Holtikultura dan Tanaman Pangan

3.      Perkebunan Hybrida, dll

4.      Pengolahan Hasil Pertanian

5.      Anyaman Bambu (Home Industri)

6.      Meubel Rotan (Home Industri)

7.      Ukir Kayu (Home Industri)

8.      Tenun Ikat dan Souvenir (Home Industri)

 

6.

KOMPUTER/IT

1.     MS. Word

2.     Ms. Excel

3.     Ms. Power Point

 

1.      Basic ICT & PC Operation

2.      Ms. Office

3.      Network & Internet

4.      Database Application

5.      Web Design

6.      AutoCad & GIS

7.      GPS Application & Mapping

 

 

7.

BAHASA

Belum ada Pelatihan

 

1.      Bahasa Inggris (Kids-Elementary-Intermediate, Advance and High Class)

2.      TOEFL Preparation

3.      English for Bussiness

4.      English for Bussiness Communication

5.      Bahasa Jepang

6.      Bahasa Mandarin

7.      Bahasa Melayu dan Arab

 

 

8.

METODOLOGI PELATIHAN

Belum ada Pelatihan

 

1.      Training of Trainers

2.      Training of Office

3.      Management Workshop

4.      Skill Audit

5.      Leadership Level 1-2-3

6.      Work Ethics

 

 

Upaya Merancang Manajemen SDM Berbasis Kompetensi

Pengembangan pribadi yang bermutu unggul secara sistematis boleh jadi merupakan salah satu strategi yang mesti diusung ketika suatu unit pelatihan berusaha menjadi baik. Dalam kaitannya dengan hal ini, beberapa tahun terakhir merebak satu pendekatan baru dalam menata kinerja manusia, yang acap disebut sebagai competency-based HR management (CBHRM), atau manajemen pengelolaan SDM berbasis kompetensi. Dalam pendekatan ini, kosa kata kompetensi menjadi elemen kunci.

Secara general, kompetensi sendiri dapat dipahami sebagai sebuah kombinasi antara ketrampilan (skill), atribut personal, dan pengetahuan (knowledge) yang tercermin melalui perilaku kinerja (job behavior) yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi. Dalam sejumlah literatur, kompetensi sering dibedakan menjadi dua tipe, yakni soft competency atau jenis kompetensi yang berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengelola proses pekerjaan, hubungan antar manusia serta membangun interaksi dengan orang lain. Contoh soft competency adalah: leadership, communication, interpersonal relation, dll. Tipe kompetensi yang kedua sering disebut hard competency atau jenis kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan fungsional atau teknis suatu pekerjaan. Dengan kata lain, kompetensi ini berkaitan dengan seluk beluk teknis yang berkaitan dengan pekerjaan yang ditekuni. Contoh hard competency adalah : machine, fabrication, mekatronik, timber construction, automotive, electronics, dll.

IMG_0044

IMG_0062

Kegiatan Pembukaan Pelatihan Non-Institusional Tambal Ban – Kejuruan Automotive di Kec.Pulau Ende. Tampak dalam gambar,  saya lagi membacakan laporannya. Gambar kedua, lagi diskusi informal dengan KTU Disnakertrans Kab. Ende dan Sekcam Pulau Ende.

Tahap pertama yang mesti dilakukan ketika suatu UPTD LLK UKM hendak membangun competency-based HR management adalah menyusun direktori kompetensi serta profil kompetensi per posisi. Dalam proses ini, dirancanglah daftar jenis kompetensi – baik berupa soft dan hard competency – yang dibutuhkan oleh UPTD LLK UKM; lengkap dengan definisi kompetensi yang rinci, serta juga indikator perilaku dan levelisasi (penjenjangan level) untuk setiap jenis kompetensi. Dalam tahap ini pula disusun semacam kebutuhan kompetensi per posisi, atau semacam daftar kompetensi apa yang dipersyaratkan untuk satu posisi tertentu, berikut dengan level minimumnya.

Tahap berikutnya merupakan tahap yang paling kritikal, yakni tahap asesmen kompetensi untuk setiap individu instruktur dalam UPTD LLK UKM itu sendiri. Tahap ini wajib dilakukan sebab setelah UPTD LLK UKM memiliki direktori kompetensi beserta dengan kebutuhan kompetensi per posisi, maka perlu mengetahui dimana level kompetensi instruktur UPTD LLK UKM – dan dari sini juga bisa memahami gap antara level kompetensi yang dipersyaratkan dengan level yang dimiliki oleh instruktur saat ini.

Terdapat beragam metode untuk mengevaluasi level kompetensi, dari mulai yang bersifat sederhana dan praktis hingga yang kompleks. Metode yang praktis adalah meminta atasan, rekan kerja dan mungkin juga bawahan untuk menilai level kompetensi instruktur tertentu, dengan menggunakan semacam kuesioner kompetensi. Kuesioner ini didesain dengan mengacu pada direktori kompetensi serta indikator perilaku per kompetensi yang telah disusun pada fase sebelumnya.

Metode lain yang lebih kompleks adalah dengan menggunakan teknik yang disebut sebagai competency assessment center. Dalam metode ini, instruktur diminta untuk melakukan bermacam-macam tugas seperti melakukan simulasi peran, memecahkan suatu kasus atau juga menyusun skala prioritas pekerjaan pelatihannya.

Hasil kegiatan ini kemudian dievaluasi oleh para kepala sub dinas yang biasanya terdiri lebih dari satu orang. Meskipun obyektivitas dan validitasnya relatif tinggi, metode ini membutuhkan waktu yang cukup panjang (biasanya dua hari) dan biaya serta energi yang relatif besar.

Metode kompetensi lain yang kini juga banyak dilakukan adalah dengan menerapkan jenjang waktu. Alangkah sulit bagi UPTD LLK UKM mencapai suatu target optimal program dan kegiatan hanya dalam satu tahun. Perlu rancangan tahun pertama (Level Dasar/Basic), Tahun kedua (Level Menengah/Intermediate) dan tahun ketiga (Level High/Mahir).

IMG_0024

IMG_0025

Kegiatan Penutupan Pelatihan Non-Institusional Kejuruan Processing di desa Rukuramba-Kec.Ende. Tampak dlm gambar Bapak Drs.Siprianus Reda Lio sedang memberikan arahan sekaligus menyerahkan sertifikat pelatihan untuk ibu-ibu kader desa Rukuramba.

 

Penerapan 3 Level ini diaplikasikan pada setiap fungsi manajemen pelatihan SDM di UPTD LLK UKM Ende, mulai dari fungsi rekrutmen standar, seleksi peserta standar, jam pelatihan standar, hingga mencetak tenaga didik di setiap kelompok binaan kelurahan/desa.

Dengan demikian, bukan saja kuantitas peserta didik yang diutamakan, akan tetapi kualitas peserta didik yang menjadi prioritas. Lebih baik mencetak 10 orang yang bisa bekerja mandiri, daripada 100 orang pengangguran terdidik.

Memang, perjalanan UPTD LLK UKM Disnakertrans Kabupaten Ende membutuhkan proses yang panjang nan berliku. Namun, manfaat yang akan diperoleh dari kesungguhan ini niscaya akan membuat sebuah UPTD LLK UKM bisa makin baik, minimal untuk menekan angka pengangguran di Kabupaten Ende yang tercinta.Kita Mulai…..

Tanda tangan

*********************************************************

Non-Institusional = Pelatihan yang bertempat di UPTD LLK UKM Ende

Non-Institusional = Pelatihan keliling di desa-desa yang tersebar se-Kabupaten Ende.

About these ads

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s