Mencari BARA NOERI di Manungoo’o (02)

Selamat Pagi Manunggo’o….

Slamat pagi manunggo'o

Tampak puncak Gunung Meja di kejauhan….

Esok harinya…kami bangun, suasana segaarrr dan dingin sampai ke sumsum tulang…hmmmm…aku menarik napas panjang. Kunikmati segelas kopi hangat yang disediakan Wetta (= sebutan untuk saudara perempuan yang baru dikenal) anak perempuan Tua Adat. Berhubung cerita Tua Adat semalam begitu menariknya, kamipun meminta ijin kepada beliau untuk melihat sekeliling kompleks pelataran Manunggo’o. Bagaimana sih…cerita tentang Baranuri…??

Sekilas Sejarah Baranuri….

Baranuri

Foto Baranuri. Dilukis kembali oleh : Drs. Pua Mochsen. Lukisan ini diilhami beliau berdarkan potret asli dari buku “ verslag eener reis in du Timorgroep en Polynesie. Tijhcraft van het koninklijk Nederlandsch Aardrijkskuninjk Genooschap, XI, Plate 9.1 – from H.F.C. ten Kate (1894).

Baranuri atau lebih dikenal dengan Bhara Nuri atau Bara Noeri, menurut makna suku kata penduduk Ende, berasal dari 2 suku kata “ Noezi” dan “Bhara”. Noezi atau Nuzi berarti bintik-bintik merah di kulit, sedangkan Bhara berarti putih. Memang beliau berkulit putih dengan bintik-bintik merah di kulitnya.

Baranuri ini, adalah seorang atangga’e (pembesar) di Ende. Yang lahir dan hidup di Ende. Sejarahnya dapat anda lihat di buku sejarah MULOK yang sedang dipelajari di sekolah-sekolah di Kabupaten Ende.

Sebab terjadinya Perang Baranuri

Ada 4 sebab terjadinya perang tersebut :

a). Perselisihan Baranuri dengan seorang atangga’e/pembesar di Ende, dimana beliau tidak setuju pembesar itu bekerjasama dengan Belanda.

b). Larangan Belanda terhadap perdagangan budak ke Sumba dan perdagangan senjata Api oleh Belanda tahun 1877, yang sangat merugikan kepentingan Baranuri sebagai pembesar di Ende.

c). Campur tangan Belanda terhadap masalah perkawinannya dengan wanita dari Sumba. Dimana wanita itu dipulangkan kembali ke Sumba, dengan alasan ia tidak memiliki paspor sah dari Controleur di Sumba. hal ini membuat Baranuri marah karena tanpa sebab Belanda telah mencampuri urusan pribadinya.

d). Disitanya perahu milik Baranuri oleh Asisten Residen Brugman

Perselisihan itu sempat membuat Baranuri diasingkan ke Manggarai – kemudian ke Kupang. Pada bulan juli 1890 dia berhasil melarikan diri dan kembali ke Pulau Flores dengan mendarat di Kampung Ngalupolo (Timur kota Ende). Dari situlah, atas bantuan pembesar disana, kemudian dia mengumpulkan prajurit dan menuju ke kota Ende serta membumi hanguskan ladang dan kebun kelapa di Aembonga (salah satu kelurahan di kota Ende).

Singkat Cerita….

Pada tanggal 5 januari 1891, Residen Kupang melaporkan pada Gubernur Jenderal di Batavia bahwa ketika dia tidak dibantu lagi oleh Raja Ende serta sia-sianya pasukan sebanyak 1.100 orang mengepung Baranuri, maka atas keputusan Gubernur Jenderal di Batavia dikirimkanlah 2 kapal perang Belanda JAWA dan VAN SPEIJCK untuk menyerbu Baranuri dari laut Ippi.

Tembak meriam

Taksiran Lokasi kedatangan Kapal JAWA dan VAN SPEIJCJK di laut Ippi (timur kota Ende) dan arah penembakan meriam kapal ke Benteng Baranuri di Manunggo’o. Tampak saya berdiri lurus dan sejajar dari atas benteng tersebut.

Bersama dengan ditembakkannya peluru mortir dan meriam bertubi-tubi dari laut Ippi, pada bulan Maret 1891, Belanda akhirnya berhasil memusnahkan kampung Manunggo’o beserta bentengnya.

Batu benteng

Batu sisa peninggalan benteng baranuri di Manunggo’o. Tampak gambar yang saya ambil, bahwa batu itu berlubang terkena serangan bombardir peluru dari 2 Kapal itu….

Penangkapan Baranuri

Peristwa penangkapan Baranuri dlakukan oleh Asisten Residen Belanda bernama Rozet yang baru diangkat. Bermula dari permintaan Kepala Kampung Roworeke dan Waturoga, 2 kampung yang sebelumnya bersekutu dengan Baranuri, yang berkepentingan karena kampungnya telah mengalamai kerusakan berat ketika dibom dari Kapal Belanda itu. Mereka meminta Baarnuri untuk menyerahkan diri.

Atas rencana dan tipu muslihat Rozet, Baranuri bersedia berunding. Perundingan itu diadakan di Kapal Van Speijck. Ini dimaksudkan agar Baranuri tidak sempat lagi untuk lari dari kapal dan menyelamatkan diri ke gunung. Sebetulnya cara yang dipakai Rozet “ kurang jujur ” . Lebih tepatnya dikatakan sebuah “ penipuan “.

Akhirnya, sesudah perjanjian perdamaian Onekore diperoleh secara resmi, Baranuri yang kala itu sempat dijanjikan akan dibebaskan nantinya, pada kenyataannya diasingkan ke Kupang dan kemudian ke Jawa. Hingga saat ini, kabar meninggalnya tidak terdengar lagi….dimana sang Pahlawan dimakamkan…???.

**********************************

Daftar Pustaka dan Sumber Sejarah :

1. Sebuah petikan dari “ Flores in the Ninteenth Century : Aspects of Dutch Colonialism on a Non-profitiable Islands” Karya Stefan Dietrich-diterjemahkan oleh : Roy Hamilton.

2. Perang Baranuri – MULOK Dinas P dan K bekerja sama dengan Yayasan Servas Mario. Penulis : Dr. Servas Mario Patty.

3. Drs. Pua Mochsen, Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (BAPEDALDA) Kabupaten Ende. Salah satu narasumber sejarah Kabupaten Ende dan narasumber buku sejarah MULOK Perang Baranuri.

4. Drs. Fransiskus Lasa, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ende. Menjadi fasilitator penerbitan buku sejarah MULOK sewaktu masih menjabat sebagai Kepala Dinas P dan K Kabupaten Ende.

 

About these ads

18 thoughts on “Mencari BARA NOERI di Manungoo’o (02)”

  1. jao baru tau sejarahnya. manunggo itu kalau tidak salah dekat roworeke ya. nah di roworeke itulah tempat pertama kali saya berkenalan dengan dunia.

  2. sudah ada pergantian zaman, sekarang ini zaman reformasi, modern,globalisasi. zaman feodal sudah lewat masanya. sekarang ini kalau mau berarti, harus berkarya, berkorban demi kepentingan orang banyak. tidak bisa lagi mengandalkan nama besar leluhur.
    tetapi rasa hormat terhadap perjuangan leluhur harus tetap dipertahankan dan kalau memang merasa mewarisi segala kebesaran leluhur silahkan dibuktikan lewat karya. jangan sampai leluhur kita malu punya keturunan yang tidak bisa berbuat apa-apa

  3. thenks eja artikelnya sy dari arereke sama dengan mbak Leni :D , masih satu jalur nasab . sy punya 10 nasab hingga sampai ke nenek Bhara Nuri kalo butuh bisa j’ao bagikan nama-namanya . sy setuju sekali dengan komentar yang diutarakan oleh eja faruk arubone , apalah artinya kalo tidak memahami pengetahuan di era globalisasi saat ini , kita bisa bangga tapi sertai dengan pengetahuan untk mjnga tradisi dan sejarah nenek moyang kita , i love ende , kita semua adalah satu

  4. cerita itu tak ada faktanya dan penuh rekayasa oleh bapak pua moksen yang ada hubungannya dengan keluarga bharanuri… makanya jangan heran pua moksen itu mati muda alias umur tidak panjang… apalagi cerita dai mulok yang penulisnya adalah servas yang tidak tahu apa apa dan bukab tokoh otentik tentang pahlawan dan panglima. Ende punya panglima perang sendiri dalam sejarahnya… bukan bharanuri yang sama hal nya dengan marilonga menipu rakyat nya sendiri seolah olah berperang padahal maling dan melakukan penjarahan untuk kepentingan keluarganya… yang namanya pahlawan dan panglima perang itu berperang punya landasan mempertahankan negaranya bukan maling dan jarah untuk keluarganya… bertanyalah ke orang2 yang sudah lebih tua dan tahu sejarah dengan baik.. lihat lah simbol simbol pada orang ende pada acara kematian yang sebenarnya panglima perang dan sepantasnya jadi pahlawan… jangan terpengaruh oleh cerita2 palsu yang sebenarnya melemahkan posisi kekuatan ende sendiri. Untuk lebih jelasnya kenapa kodim ada di kelurahan kotaraja? itu karena wilayah panglima perang dan pahlawan sebagai simbol perang pertahanan negara berkedudukan di sekitar wilayah kotaraja… Semoga bermanfaat

    1. iya benr cerita itu g ada faktanya…penempatan bharanuri dan marilonga sbg pahlawan adalah pembohongan sejarah kepada masyarakat ende… klau g pcy… lihat saja di jalan simpang tiga woloare disitu kita menemukan patung bharanuri lagi membunuh singa.. padahal singa g ada di ende loh…kl pun simbol saja g ada hubungannya dgn peperangan namun singa di artikan sbg pemakan daging dan membagi2kan kepada keluarga singa ug ada di lingkungannya, sedang belanda menjajah motivasinya mengambil rempah2…jd kesimpulan dari at arti dari patung itu adlh bharanuri bukan berperang utk mempertahankan negaranya tapi mencari makanan utk keluarganya(itu fakta loh dan diceritakan secara turun temurun bagi masyarakat ende bhwa bharanuri mencuri barang curian belanda lalu membagi2kan kpd saudara2 sepertalian darahnya saja), karena merasa tersaingi dgn pemakan lainnya (belanda) maka dia maling barang makanan belanda hasil maling milik rakyat ende…jadi antara belanda dan bharanuri itu sama2 pemakan / jarah harta rakyat.. sedangkan marilonga itu bukan orang ende tapi orang asli sumba yang maling terus dikejar sama warga dan bersembunyi di ngada, lalu masuk ende, terakhir stlh kekuatan belanda melemah, marilonga menyayat telinga warga belanda yang sudah tewas lalu ditunjukkan kepada Raja bahwa dia baru selesai membunuh penjajah belanda… beginikan cara orang ende mengankat mereka sebagai pahlawan… bagi banyak orang ende tidak menyetujuinya karena berdasarkan dari cerita yang sudah secara turun temurun spt yang di uraikan di atas tadi…

      1. sebelumnya posting ini sangat bermanfaat entah fakta realnya benar atau tidak wallahualam kita tidak ada yang tahu, satu hal yang ingin saya tanyakan kepada yang menuliskan bahwa pak pua moksen itu berbohong karena membela keluarga baranuri kemudian mati muda????itu korelasinya dimana ya. menurut saya ini salah satu pikiran yang sangat picik kita masih mengaitkan kehidupan dan kematian seseorang dengan hal yang belum tentu benar. sekarang saya bertanya kepada yang mengatakan bahwa cerita ini rekaysa belaka, apalah anda mengetahui cerita aslinya??tolong tampilkan fakta nya, sekarang kita tdk bisa hanya menjudge bahwa cerita yang sudah menjadi bahagian dari sejarah masyarakat adalah bohong, kemudian ada kata2 yang kurang enak dihati saya yaitu kata kalau baranuri dan marilonga adalah maling??coba kalian yang tau ceritanya ada gak buktinya??saya sebagai salah satu warga ende merasa komentar2 miring diatas salah satu pembunuhan karakter yang tidak punya faktanya. kalaupun benar mereka (baranuri & marilonga) bukan pahlawan ende terus siapa???

  5. pahlawan it berperang krn penjajahan oleh kolonial shg motivasinya mempertahankan negaranya. bkn krn soal campur tangan belanda pd urusan pribadi, aplg soal larangan belanda ttg dagang budak… jd baranuri dagang budak donk…kok jd pahlawan..lucu kan… jd kesimpulannnya benr bhwa baranuri justru menindas rakyat pd wakt itu… maling kan… dlm kepercayaan orng nd bhw org yg g pantas bicara fakta sejarah jgn asal omong…agar umur panjang makanya pua moksen itu mati umurnya pendek… it sdh disumpah oleh para raja ende (kaum breng/intelektual.penguasa bersama2 dgn kaum satria/prajurit )dgn meminum darah. ada org2 tertent yg beloh scr turun temurun bcr ttg fakta sejarah bkn basis penelitian pake data sekunder. bayangkan sj waktu nika kan anak ya dia ngaku2 sbg ata ngga’e nya ende dan sok2 an nikah kan di rumah adat yg salah \taruh tempat itu…waktu itu para pembesar ende dan tokoh2 adat ende meramalkan bahwa ada gejala bahaya pada ua mosen kara bukan ata ngga’e tp ngaku ata ngga’e n bkn hak nya bcr fkta sejarah tp mau melakukan makanya mati muda n keluarganya hancur… yg pantas jd pahlawan it adalah opu oja dr woloare krn motivasinya pertahankan wilayahnya, Raja pua note jg patas krn pada masa ahirnya ditangkap belanda dan mati dikupang. smg bermanfaat

  6. ya…benar jg ya… aneh nagara kt ini… yg pantas jd pahlawan adalah para bandit dan maling semuax… lihat saja gajah mada kok jadi tenar padahl fakta sejarah nya adalah bandit bahkan sampai sekarang scr turun temurun di adakan ritual tahunan caci makian utk memperingati peristiwa pengejaran gajah mada pada masa lalu. yg pd akhirnya gajah mada bersumpah palapa yg makna sebenarnya adlh bahwa tidak akan menyentuh buah dada wanita (tdk mau kawin) karena peristiwa itu… jd semua sejarah yg ada adalh rekayasa sama halnya peristiwa g 30 S PKI yg penuh rekayas.. siapa yg pd wakt it intelek mk dibuatkan fakta sejarah palsu untuk kepentngan bisnis… trms…

  7. dengan membaca posting kali ini saya sangat tertarik ingin tahu lebih jelasnya lagi, tentang kutipan tulisan berikut ini “iya benr cerita itu g ada faktanya…penempatan bharanuri dan marilonga sbg pahlawan adalah pembohongan sejarah kepada masyarakat ende… klau g pcy… lihat saja di jalan simpang tiga woloare disitu kita menemukan patung bharanuri lagi membunuh singa.. padahal singa g ada di ende loh…kl pun simbol saja g ada hubungannya dgn peperangan namun singa di artikan sbg pemakan daging dan membagi2kan kepada keluarga singa ug ada di lingkungannya, sedang belanda menjajah motivasinya mengambil rempah2…jd kesimpulan dari at arti dari patung itu adlh bharanuri bukan berperang utk mempertahankan negaranya tapi mencari makanan utk keluarganya(itu fakta loh dan diceritakan secara turun temurun bagi masyarakat ende bhwa bharanuri mencuri barang curian belanda lalu membagi2kan kpd saudara2 sepertalian darahnya saja), karena merasa tersaingi dgn pemakan lainnya (belanda) maka dia maling barang makanan belanda hasil maling milik rakyat ende…jadi antara belanda dan bharanuri itu sama2 pemakan / jarah harta rakyat..”, kalo boleh tau siapa ya yang membuat patung baranuri membunuh singa itu?? kira-kira “ANDA” tau nggak kenapa simbol singa yang menjadi sesuatu yang dibinuh oleh baranuri, kalau hanya diartikan sebagai singa pemakan daging anak SD pun bisa menafsirkan posting anda?coba anda cari tau dulu kepada si pembuat patung tentang makna dari patung itu, setelah anda mengetahui makna yang ada menurut saya baru anda boleh berkomantar. kalo masi sama – sama tidak tahu maksutnya, tolong ya jangan berkomentar, kalau yang namanya mencarikan makanan untuk keluarganya itu haknya baranuri, tidak perlu untuk dikomentari, kalaupun dengan cara mencuri apakah anda ada di masa itu??? kalau memang cerita baranuri mencuri itu didapat dari para orang tua di masa lampau yang masi hidup, boleh nggak saya berkenalan soanya saya mau tanya masa ketika ada belanda di tanah Ende itu kehidupan perekonomian di masa itu seperti apa? kita berani membunuh karakter seseorang itu harus diiringi dengan fakta bukan hanya sebuah tulisan saja,,,, seandainya singa itu diartikan sebagai belanda bagaimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s